Wednesday, May 16, 2007

Bisnis Gambir

Di kampung keluarga Ayah, sebagian besar masyarakat adalah petani Gambir. Termasuk keluarga Ayah. Bahkan untuk memenuhi kebiasaan itu, secara kecil-kecilan Ayah juga membuat sebuah ladang gambir sekitar 3 Ha. Almarhum Kakek (suami dari bibinya Ayah) adalah salah satu bos gambir di kampung. Ia punya berpuluh-puluh hektar ladang gambir. Selain itu ia juga menyalurkan gambir dari petani lainnya dan dijual ke Kota Padang dimana bersarang tauke-tauke yang akan mengekspornya terutama ke India.

Indonesia adalah pemasok terbesar kebutuhan gambir dunia. Sedangkan daerah sentra penghasil gambir di Indonesia adalah di kampungku Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama nagari Ayah. Gambir (uncaria gambir sp) adalah tumbuhan sema yang tidak berkayu seperti karet. Yang diambil dari gambir adalah getahnya yang nantinya akan diekstrak untuk diambil substansi cathecine di dalamnya. Cathecine berguna untuk banyak produk, utamanya sebagai bahan pewarna tekstil dan –katanya- juga untuk pewarna permen karet. Kalau di kampung-kampung di Minangkabau, gambir dikunyah bersama sirih dan kapur sirih, sering pula dioleskan pada –maaf- puting susu ibu-ibu untuk menghentikan proses menyusui selama dua tahun. Bayi yang mengisap susu akan terkejut dengan rasa yang tidak biasa dan selanjutnya emoh menyusu.

Getah gambir tidak diambil dari batangnya tapi dari daunnya. Proses ini disebut ‘mangampo’ yang merupakan panen gambir. Mangampo biasanya dilakukan lima kali dalam dua tahun. Proses mangampo dulunya bukanlah proses yang ringan, bahkan sekarangpun begitu. Beberapa orang buruh tani memetik daun gambir, merebus dan dilanjutkan dengan mangampo(mengempa). Dalam mangampo cara lama, daun yang telah direbus ditaruh dalam jaring, diletakkan di antara dua kayu besar, kayu-kayu itu dihantam dengan baji –hiyaaaaaaaat- lalu daun akan terjepit dan airnya terperas ke luar. Proses ini harus hati-hati, kadang-kdang bajinya lepas, terbang kemana-mana –katanya ada yang sampai ke Amerika ding!!! (boong)- melukai para buruh . Pekerjaanya menguras energi. Pertama karena daun tidak bisa diambil sekaligus yakni hanya sejumlah yang bisa direbus, jika tidak daunnya akan kering. Jadi terpaksa bolak-balik antara ladang dengan pondok kempaan. Kedua, menghantam baji dengan palu godam yang maha besar membutuhkan energi yang tidak sedikit. Makanya, urang mangampo, jarang yang puasa.

Sayangnya saat ini palu godam mulai pensiun. Mungkin karena sudah ada kekasih baru berupa dongkrak mobil truck. Dengan dongkrak proses memeras daun sedikit lebih ringan karena tidak harus menghantam baji dengan palu godam. Tapi urang mangampo tetap tidak puasa. Selanjutnya, setelah air dari daun keluar, didiamkan semalam agar mengendap. Endapan ini dicetak dengan potongan bambo lalu dikeringkan. Mereka yangmelakukan proses ini akan mendapatkan kenang-kenangan yakni tangan yang selalu kotor. Getah yang keluar selama proses ini biasanya lengket di tangan urang mangampo, tidak bisa hilang dalam jangka waktu yang lama. Karena para buruh ini mangampo tiada henti, minggu ini di ladang Pak Udin, lalu Mak Kiun, besoknya di Ombak Incun, lalu Haji Nasagh, praktis tangannya akan tetap menghitam sepanjang hayat dikandung mangampo.

Hasil yang telah kering inilah yang dijual kepada pihak luar. Bentuknya masih setengah jadi dan tidak ketahuan spesifikasinya bagaimana. Kadang sebagian petani nakal mencampur endapan itu dengan tanah atau pupuk agar beratnya bertambah saat ditimbang. Perilaku ini yang merusak harga gambir di pasaran sehingga menghancurkan petani bermodal kecil. Beberapa tahun lalu, seorang teman sarjana hasil pertanian Universitas Andalas yang melakukan penelitian tantang gambir pernah mengusulkan untuk membuat pabrik pengolahan gambir di kampung. Jadi kita tidak lagi mengekspor dalam bentuk endapan yang kering itu, tapi langsung mengekstraknya dan menjual benar-benar substansi cathecine itu sehingga peluang kecurangan jadi kecil dan added value lebih tinggi. Namun untuk itu tentu butuh investor. Pemda sendiri sepertinya cuek-cuek aja padahal gambir adalah produk primadona Kabupaten Lima Puluh Kota.

Bulan lalu, seoramg teman di Jakarta menanyakan kepada saya apakah saya punya akses langsung ke petani gambir di Lima Puluh Kota. Saya mengatakan bahwa anda salah orang. Saya bukan orang yang punya akses ke petani gambir, tapi keluarga sayalah petani gambir itu!! Katanya ia berkenalan dengan importir dari India dan minta disupply gambir jenis botch kuning sejumlah 16 ton per minggu. Saya langsung mengubungi keluarga, cek supply dan harga lalu menyampaikan ke teman itu.

Harga gambir sangat fluktuatif. Harga tertinggi di tingkat tauke di padang sampai Rp.21.000/kg, terendah kadang mencapai Rp.6.000/kg. Jadi sangat fluktuatif sekali. Kalau tiba harga gambir mahal, orang-orang di kampung jadi kaya semua. Hampir semua orang punya sepeda motor dan banyak pula yang mati pada periode ini karena mengemudi motor ugal-ugalan. Pada saat inilah kita akan melihat kampung hidup, semua orang senyum, berleha-leha, mesjid juga kebagian infaq gede bahkan –kabarnya- kobokan (air pencuci tangan untuk makan) bukan lagi air biasa, tapi sprite! Sebaliknya, kalau harga sudah turun, satu-per satu motor dijual, kampung serasa mati, hidup tak bersemangat, makan kadang tertunda. Kehidupan yang tradisional membuat mereka jarang yang menabung apalagi di Bank.

Problem yang utama dalam melakukan transaksi dengan kawan saya ini adalah ada pada spek gambir. Gambir ini diproduksi secara tradisional jadi masyarakat tidak melakukan quality control dalam proses produksinya. Mereka tidak tahu berapa ash contentnya, kandungan sulfur, mineral lainnya yang itu dibutuhkan pembeli. Tapi jalan kelurnya, kemarin saya dikirimi sample barang yang dapat dicek di laboratorium. Kesepakatan yang sudah ada bahwa kawan saya bersedia membeli dengan standar barang seperti sample. Masalah selanjutnya adalah masalah harga. Harga yang saat ini cukup tinggi membuat margin saya tipis. Tapi itu tidak apa-apa karena yang penting adalah komitmen supply yang berkelanjutan. Tugas yang berat selanjutnya dalah mengontrol seluruh proses berjaan wajar.

Transaksi dengan petanu tradisional di kampung bukanlah hal yang mudah. Mereka terbiasa dengan cara ada uang, ada barang. Petani tidak terbiasa dengan pembayaran yang tertunda dan semuanya harus cash! Tidak ada cerita bank-bank-an. Almarhum Kakek kalau menjual gambir ke Padang juga begitu. Ia sering menenteng uang ratusan juta rupiah di dalam tas berkeliling Pasar Raya Padang. Karena memang tidak terpikir olehnya untuk menggunakan jasa bank. Tiak tahu alasannya mengapa, apakah syar’i atau hanya karena ketidaktahuan. Saya tidak mungkin bertanya lagi kepadanya saat ini. Saya ingat, nenek pernah diperingati pegawai sebuah toko di Payakumbuh karena banyaknya uang tunai di dompetnya. Tapi gimana lagi, ia gak punya rekening untuk sekadar ber ATM atau Credit Card.

Walaupun begitu, saya tetap jalan. Soal pembayaran bagaimana, mungkin perlu mengedukasi petani tradisional. Yang jelas gambir di kampung harus bisa terdistribusi dengan baik.

Pemerintah, kasih perhatian donk komoditas unggulan ini…


12 comments:

  1. Hi Helfi, Salam Kenal..

    Siang ini saya baru saja menonton tayangan pertanian di Metro-TV,ulasannya tentang Gambir. Terus terang saya baru tahu kalo Indonesia adalah pengekpor Gambir No. 1 di Dunia (Raw) tapi karena 1 mata rantai tidak dikuasai, yaitu Processing, akhirnya Dunia hanya mengetahui bahwa Indialah supllier utama gambir dunia. Sangat ironis sekali ya...
    Ini sangat menggelitik saya dan manimbulkan banyak pertanyaan?.. kenapa tidak ada perhatian ke arah itu ?.. Apakah indonesia sudah tidak punya sama sekali Insinyur Kimia yang bisa menciptakan small home Gambir Processing machine.??setahu saya IPB (sy alumni IPB) bisa memroses daun2 tertentu menjadi minyak atsiri dalam sekala home industri..IMHO, mungkin process pengolahannya ini tidak berbeda jauh dengan mengolah Gambir yang juga mengekstrak air dari daun dan ranting.
    Terus terang, memalukan sekali mengetahui hal ini..
    Second think, hal yang juga mempengaruhi dalam hal ini adalah Informasi !!! tidak smua orang tau akan potensi gambir yang besar dan bisa dikelola menjadi Industri yang berwawasan kerakyatan.
    Kita tidak bisa berharap banyak pada pemerintah bukan ?? saya yakin anda akan setuju dengan anda...
    So, saya Challenge anda, sebagai Petani Gambir/Keluarga petani Gambir yang well educated, untuk menyebarkan info ini semakin meluas, menarik investor ke Limapuluh Kota untuk mengembangkan industri processing Gambir, dan memutus rantai ekspor Gambir ke INDIA sehingga dunia bisa mengenal Indonesia sebagai produsen Gambir NO.1 di dunia..Keuntungannyanya akan sangat merakyat,. Anda bisa mengangkat kesejahteraan petani Gambir, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan tingakt ekonomi di daerah dan meningkatkan devisa bagi Negara..

    Bro,.. hidup hanya sekali, so there only one time to write into the history about our life..Be One the Man who his name written into History..

    Salam,
    Fadli

    ReplyDelete
  2. Fadz, sorry, saya baru baca comment anda karena postingan saya tentang gambir itu sudah cukup lama sehingga saya tidak sadar kalo ada komen.
    Btw, ide anda sangat menarik dan saya suka dengan pola berpikir anda. Kalau misalnya kita bisa mengedukasi petani tradisional untuk mengolah gambir langsung diekstrak menjadi pasta, maka perekonomian kita akan semakin meningkat. Kalau misalnya para investor ada yang tertarik, anda bisa informasikan ke saya. Saya pikir tidak ada salahnya jika setiap kita menyumbangkan komitmen untuk mengangkat harkat petani sekaligus memberi partisipasi kepada perekonomian bangsa. Komunikasi lebih lanjut, bisa kita lakukan via email di yudihelfi@gmail.com

    ReplyDelete
  3. Mas Helfi and Mas Fadz..

    saya dukung Deh usaha mas mas berdua unk memajukan daerah kita sebagai penghasil gambir terbesar didunia...

    langsung aja mas cari investornya...

    ReplyDelete
  4. siyata utama ujung batuJanuary 12, 2011 at 7:51 PM

    saya mendukung langkah langkah yang kalian lakukan, saya juga seorang putra kapur IX, saya menyarankan kalau bisa dikampung itu ada suatu lembaga yang bisa membeli hasil gambir masyarakat, supaya jangan tengkulak terus yang untung banyak,

    ReplyDelete
  5. zamroni_putra@yahoo.co.idSeptember 13, 2011 at 10:35 AM

    pak di sumatra barat sentra gambir terbesar bukan saja di payakumbuh,tapi dipesi2r slatan juga terbesar,dan saya jg pernah melakukan terobosan tuk pengembangan gambir ke arah home industri,tuk perkenalan saya putra pesi2r slatan dan alumni teknik kimia.dan dlam penelitian saya sudah pernah merancang proses pengolahan gambir menjadi katechin dengan proses yg lebih canggih dalam skala home industri,yg menjadi kendala skrg tu adlah pemasaran nya itu kemana,klau punya link keluar negri bisa dak kita kerja sama,klaupun bukan tuk menghasilkan katechin tuk mendpatkan gambir murni ja pemasarannya juga dak pa2.ditunggu informasinya???

    ReplyDelete
  6. permisi saya mau komen dikit. menurut saya bukan soal pengolahan yg masalah tapi pasaran nya. harga di pasaran dunia saja smpai USD30/kg tapi knapa harga di petani hanya berkisar Rp2OOOO/kg itu klu harga lagi bagus. ini bisa terjadi dan tidak terpantau krn bukan komoditi unggulan dan hanya sedikit daerah yg tau dan membudidayakan gambir. saya pernah bicara dengan petani gambir klu mereka mampu membuat gambir dengan kadar katekin (Catechin)smpai 96%. konon gambir untuk pasaran Internasional, semua pengolahan di lakukan hanya di atas kapal saat sampai di tujuan (kebanyakan untuk Negara India) sudah menjadi barang jadi, siap komsumsi dengan merk halaban. biasanya peng"exsporan lewat Medan.

    ReplyDelete
  7. prmisi...numpang koment juga..
    saya juga putra daerah payakumbuh..miris memang melihat nasib para petani gambir yang sangat bergantung pada tengkulak..
    saya pernah berniat membuat koperasi untuk membantu petani dan juga pemasarannya..
    kalo ada link ke luar negeri untuk pemasarannya mungkin akan sangat lebih baik bagi petani..
    ditunggu infonya..

    ReplyDelete
  8. bapak, ibuk, saudar/i . . . !!!
    beri kami jalan dan masukan bagaimana cara nya, supaya pemerintah kab,lima puluh kota dan prov,sumbar bisa terbuka matanya, dan melihat kami masyarakat petani gambir bisa mendapatkan kembali kehidupan yang layak, kami sebagai mahasiswa cukup cemas akan kelanjutan pendidikan kami,
    saya alpret remon putra daerah kapur IX, khususnya KOTO LAMO,

    ReplyDelete
  9. daun gambir/uncaria juga merupakan bahan obat2an..sbg .suplemen,obat demam,masuk angin dll tapi sayang kurang di manfaatkan. Di situs aliexpress dan alibaba banyak penjual uncaria/gambir dan produk dari uncaria

    ReplyDelete
  10. daun gambir/uncaria juga merupakan bahan obat2an..sbg .suplemen,obat demam,masuk angin dll tapi sayang kurang di manfaatkan. Di situs aliexpress dan alibaba banyak penjual uncaria/gambir dan produk dari uncaria

    ReplyDelete
  11. Mas saya tertarik dan ingin banyak bertanya. Apa mas bisa memberikan alamat email atau wa yang bisa saya hubungi agar infonya lebih jelas?

    ReplyDelete