Hard Choice


"Mandi di Hilir-Hilir, Berkata di bawah-bawah."


Peribahasa di atas seringkali dibacakan semasa saya kecil oleh keluarga. Begitu juga ketika memasuki Sekolah Dasar, peribahasa ini musti dihafalkan untuk dibacakan di depan kelas lalu Bu Guru akan mencatatnya ke dalam buku nilai. Setiap hari, akan didiktekan kepada kami belasan peribahasa. Yang hafal banyak akan dipuji dan yang hafal sedikit akan dimarahi. Kadang beberapa teman di Jakarta, bingung ketika saya sering menggunakan peribahasa dalam menangapi persoalan. Mereka pikir karena saya orang minang, walaupun tidak semua orang minang bisa. Jawaban yang paling tepat adalah karena saya diajari di SD.

Kembali ke peribahasa di atas. Inti peribahasa itu adalah sopan santun, penghormatan dan mendahulukan orang lain. kalau dalam terminologi Arab disebut dengan Itsar. Sikap seperti ini sangat mulia, karena memberikan penghormatan adalah juga bentuk kemuliaan. "Hanya orang mulia yang mampu memuliakan orang lain, dan hanya orang hina yang menghinakan orang lain."

Saya mencoba menyederhanakan peribahasa itu dengan perumpamaan: Kalau kita mandi di Hilir, berarti kita memberi kesempatan pada yang lain untuk mandi di Hulu. Kalau yang di Hulu mandinya pakai sabun, maka yang di Hilir akan kebagia buih sabunnya..Kotor Dunk:). Syukur-syukur kalau yang di Hulu -maaf- buang bom (walah ngaco!!)

Masalahnya implementasi peribahasa itu bukanlah hal yang mudah di Jakarta. saya mencoba mendahulukan seorang perempuan naik bis, resikonya saya ketinggalan bis. Saya mendahulukan yang mau turun kereta, eh sayanya didorong untuk masuk. Ketika saya mendahulukan orang, maka saya tidak akan pernah mencapai tujuan. Saya harus melakukan sedikit kekerasan, mendorong, membuka jalan, bahkan menyikut. Sungguh, saya harus merubah kepribadian saya karena ini. Jadi Migrain Nich (Split Personality)

Sekarang ada kejadian yang cukup mengesankan. Selama ini di mesjid tempat saya biasa Shalat, saya selalu menggunakan prinsip peribahasa itu. Saya selalu mempersilakan orang lain untuk menjadi Imam. Biasa, basa-basi dengan harapan bahwa yang jadi Imam benar-benar orang yang tepat. Ternyata, dalam prakteknya, orang yang saya dahulukan untuk maju sering mengecewakan. Bacaannya sering tidak bagus, makhrajnya tidak pas, tajwidnya entah kemana, panjang pendeknya dihantam saja. Pengalaman ini paling sering kalau saya Shalat di Tempat Umum seperti Mall, Bandara atau terminal. Saya kecewa dengan bacaannya, dan kecewa dengan orang yang saya persilakan yang tidak berpikir untuk mendahulukan orang lain. Lebih tegasnya, "Tidak Mengukur Bayang-Bayang sepanjang Badan!". Bukan saya mengatakan saya bagus, hanya saya mungkin bisa lebih baik dari mereka. Nyesel Dech..

Berangkat dari pengalaman itu, terbangunlah satu tekad dalam diri bahwa saya tidak akan mendahulukan orang lain lagi dalam hal ini. Karena saya lihat juga yang lain seperti itu. Di mesjid yang biasa saya tempati untuk Shalat, ada teman yang kalau Iqamah telah selesai, secara spontan maju jadi Imam, walaupun tidak ada yang mempersilakan, suatu sikap yang menurut peribahasa di ats bukanlah sikap yang baik. Ada juga yang bacaannya jelek, juga bersikap sama. Saya ada di situ, mungkin karena selalu berbasa-basi dengan mempersilakan yang lain pada saat pertama kali Shalat di sana, selanjutnya saya dianggap tidak bisa.

Kebetulan di suatu Shubuh, yang biasa jadi Imam dan mereka yang sering maju jadi imam tidak datang ke masjid. Beberapa orang mempersilakan saya untuk maju. Dengan biasa saja, saya mencoba menjadi Imam. Agak sulit memang, karena di Shubuh hari, suara kita masih berat dan parau. Tapi saya tetap melanjutkan demi kesuksesan shubuh berjamaah.

Paginya, seorang teman SMS saya, "Bang, saya tadi Shalat di masjid jadi makmum. Katanya gak bisa, tapi kok tadi suaranya bening banget. Saya udah lama nyari yang bacaannya kayak gitu sehingga Shalat kita Khusu". Ada getar bangga di hati. Tapi mulai saat itu saya jadi takut. Sekarang, niat saya bisa rusak. Jujur saja, ada riya, pamer yang menyelusup ke dalam hati. Bersaha saya melawan, tapi ia menyusup bak virus yang sangat tajam.

Shubuh beberapa waktu yang lalu, saya ke mesjid lagi. Hati saya antara ingin jadi imam dan melawan rasa riya. Saya benar-benar takut. Sampai di Mesjid saya lihat tidak satupun wajah imam yang biasa kelihatan ada di mesjid. Ada kemungkinan saya akan diminta jadi Imam. Dada saya bergemuruh, ada harap dan cemas akan riya. Pilihan yang sulit..

Diam-diam saya ke kamar mandi menunggu Iqamah. Begitu Iqamah dilantunkan dan ada seseorang yang dengan terpaksa harus maju. Begitu mendengar Takbiratul Ihram dengan pasti, Saya masuk kembali ke dalam Masjid menjadi Makmum seperti biasanya.. Seperti biasanya, saya musti kecewa lagi. Tapi mungkin itu pilihan terbaik di antara pilihan yang sulit.

Menjaga keikhlasan mungkin lebih penting dari pada memuaskan diri..

Wallahu a'lam


Post a Comment

4 Comments

  1. yang jelas,bro... tidak ada itsar dalam beribadah! hm, fastabiqul khairat deh,pokoke!!
    _Dy

    ReplyDelete
  2. dont understand the french but if they understand english then go buy Viagra at ViagraPrescription.co.uk

    ReplyDelete
  3. mungkin perlu dilihat kembali ..
    fudhail bin iyadh mengatakan

    tidak beramal karena takut menjadi riya' itulah riya'

    beramal karena manusia itulah syirik ...

    tetep jadi imam, tapi belajar menghapus rasa riya' tadi ...

    ReplyDelete
  4. May Allah put more understanding&compassion in our hearts. may we learn to accept our differences, disagree respectfully& withhold our judgement of others in our ummah. May we learn to spend more time giving ourself the advice we need, and less time worrying about another or trying to prove ourselves better. ameen.NZ

    ReplyDelete

Recent Posts