Tuesday, October 16, 2007

Ied yang Aneh


Iedul Fitri kali ini terus terang menyulitkan bagi saya. Pertama karena saya tidak bisa ikut dalam arus mudik tahun ini dan kedua, Kedua karena adanya perbedaan waktu Ied yang membuat saya bingung untuk mengatur jadwal khutbah.

Karena minggu depan tanggal 22 Oktober 2007 jadwal UTS akan segera dimulai, saya harus menghabiskan waktu di Jakarta. Ada tumpukan tugas yang mesti diselesaikan sebelum ujian. Sebenarnya tidak akan menumpuk jikalau saya tidak menunda-nundanya. Tapi ternyata hal seperti itu terjadi juga. Walhasil, jika saya mudik, kesempatan untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut menjadi berkurang.

Kedua, untuk kesekian kalinya dalam hidup saya, jadwal Ied tidak sama. Saya tidak mampu melakukan hitungan karena tidak terlalu paham tentang cara penghitungannya. Katanya ada Imkaanur Rukyah dan Wujudul Hilal. Metode Imkanurrukyah mensyaratkan bahwa Bulan Muda (Hilal) harus berada pada posisi yang mungkin dilihat di atas ufuk (Horizon) sementara metode Wujudul Hilal mensyaratkan keberadaan bulan di atas ufuk serendah apapun. Dengan asumsi itu, metode wujudul hilal akan selalu mendahului imkanur rukyah.

Sejujurnya ada keraguan pada pagi Jum'at tanggal 12 Oktober lalu. Sebenarnya, sebagai orang yang dibesarkan dalam kultur Muhammadiyah, jauh-jauh hari saya sudah menetapkan pilihan berhari raya pada jadwal yang ditetapkan oleh PP Muhammadiyah. Namun sebelum itu, saya berada dalam pergulatan yang agak menggelisahkan. Pertama, semua sahabat saya memutuskan berhari raya pada hari Sabtu, kecuali beberapa orang. Kedua, tulisan Kang Jalal di salah satu media yang menyarankan untuk mengikuti ulil amri. Dalam gelisah pagi itu, saya buka Al-Qur'an dan mencoba membaca ayat di Surat Al-Baqarah yang ternyata menyatakan bahwa kita harus berpuasa karena melihat Syahrun. Sengaja saya baca syahrun untuk membedakannya dengan Qamar atau Hilal. Bahasa Indonesia menyebut dua konsep ini dengan kata yang sama yakni "Bulan". Padahal terdapat perbedaan yang tegas antara Syahrun (Month) dengan Qamar (Moon). Oleh karenanya saya berbuka.

Problem baru muncul karena berbeda dengan di Sumbar dimana mudah sekali menemukan lokasi Shalat Ied yang mengikuti Muhammadiyah -bahkan Pemda juga ikut Muhammadiyah-, di Depok ternyata tidak semudah itu. Bahkan pada malam sebelumnya seorang teman yang juga hendak shalat ied dengan jadwal Muhammadiyah menelepon saya karena bingung mencari lokasi Shalat. Dengan berbekal keyakinan saja pagi itu saya ke Lapangan HW (Hizbul Wathan) yang ternyata memang berhari raya pada hari itu.

Dilema saya selanjutnya adalah bahwa saya telah menyepakati untuk memberikan Khutbah Ied di daerah Daan Mogot yang berhari raya pada hari Sabtu, seperti pemerintah. Sementara saya sudah berhari raya pada Jum'at. Saya berpikir, membatalkan khuthbah juga tidak bijak karena waktunya sudah sangat kasib dan akan menyulitkan pihak Masjid. Akhirnya saya tetap putuskan untuk shalat ied dua kali.

Pada Hari Sabtu, saya melaksanakan Shalat Ied yang kedua kalinya. Bedanya kali ini saya menjadi Imam shalat sekaligus Khathib. Saya sampai di Masjid pada pukul 6 kurang sepuluh menit. Sengaja agak cepat untuk mengantisipasi jikalau ada yang perlu disesuaikan dengan masyarakat sana mengingat adanya perbedaan mazhab. Namun sesampai saya di sana tidak ada pembicaraan apa-apa. Saya juga bingung akan bertanya pada siapa karena semuanya tenggelam dalam takbirnya.

Waktu Shalat tiba dan saya dipersilakan menjadi Imam. Menimbang masyarakat yang sepertinya bukan masyarakat Muhammadiyah, saya mengalah dengan menjaharkan bacaan BISMILLAH. Rasanya aneh karena tidak terbiasa. Terakhir kali menjaharkan Bismillah adalah tahun 1996, itu pun juga untuk menimbang perasaan jamaah.

Yang membuat saya terkejut adalah ketika saya akan naik mimbar, seorang dengan tongkat di tangan membacakan Shalawat. Saya yang salah tingkah karena tidak biasa berdiri saja. Lalu saya diserahi tongkat. Jujur ini membuat saya tidak tahu harus mengapa. Kikuk dan grogi. "Apa yang harus saya lakukan dengan tongkat ini?".

Tongkat akhirnya saya taruh di pinggir lalu saya mengucapkan salam. Tiba-tiba saya diinterupsi lagi dengan bacaan dari pembawa tongkat tadi. O.. Mak. Apalagi ini. Barulah setelah ia selesai, saya baru bisa Khutbah.

Baru 15 menit khutbah berjalan, pengurus di bawah memperingatkan saya tentang waktu. Saya jadi aneh. Sepanjang pengalaman Khutbah saya, khutbah selama 20-30 menit adalah wajar, sementara ini baru 15 menit. Karena sudah begitu, khutbah saya kebut dan akhiri.

Seturun dari mimbar, bersalaman dengan pengurus dan jamaah, seorang pengurus sepertinya yang paling senior mengatakan pada saya bahwa saya salah karena tidak pakai Khutbah kedua. Saya mengatakan bahwa memang ada perbedaan tentang itu, artinya ada yang dua kali khutbah dan ada yang sekali. Ia membantah dengan bibir bergetar menahan emosi sembari mengatakan bahwa ia sudah khutbah kemana-mana dan selalu dua kali. Dalam hati saya. "Berarti dia belum kemana-mana. Sebab kalau ia sudah kemana-mana, ia pasti menemukan varian antara yang dua kali dan sekali." Ia lalu meninggalkan saya dengan emosi...

Kepada Ayah, saya menceritakan pengalaman ini. Ia mengatakan bahwa pengalaman seperti ini juga sering ia alami dahulu. Kepada Om saya Ust. Drs. H. Hanafi Tasra, saya juga ceritakan hal yang sama. Jawaban beliau, memang banyak orang yang baru baca satu kitab, namun telah berani menjudge. Komentar saya kepada pengurus masjid, "Saya sudah datang dari pukul 6 kurang sepuluh, namun kenapa tidak dikomunikasikan? Padahal saya datang pagi-pagi. Ini hanya problem komunikasi saja!"

Penasaran, saya bolak balik lagi kitab. Ternyata khutbah dua kali adalah Khuthbah untuk SHALAT JUM'AT. Sementara untuk hari raya hanya sekali. HANYA SATU MAZHAB yakni MAZHAB SYIAH JA'FARI (IMAMIYAH) yang mensyaratkan bahwa Khutbah Ied harus seperti Kuthbah Jum'at. Sayangnya pengurus mesjid pasti tidak tahu ini.


3 comments:

  1. aneh.....
    tapi yang pasti sepanjang ada orang yang menyetujui,pasti ada yang membantah,entahlah...
    F-ree pyk

    ReplyDelete
  2. first of all,it s hard to give any comment of the ridiculous phenomena that u've experienced in this ied. we just need to remember that probably they are too 'shallow-minded' and haven't got any enlightenment to understand Islam n the difference itself. I believe that patience n taking deep breath are the simple way to keep us standing firmly facing them...
    wish u all the best.

    ReplyDelete
  3. first of all,it s hard to give any comment of the ridiculous phenomena that u've experienced in this ied. we just need to remember that probably they are too 'shallow-minded' and haven't got any enlightenment to understand Islam n the difference itself. I believe that patience n taking deep breath are the simple way to keep us standing firmly facing them...
    wish u all the best.

    ReplyDelete