Thursday, March 6, 2008

Sumbang Saran Untuk Ayat-ayat Cinta, The Movie

Jujur, pada awalnya saya tidak memberikan perhatian pada novel Ayat-Ayat Cinta. Walaupun sering bermain di toko buku, saya lebih suka memperhatikan buku-buku yang lebih “serius” atau buku yang benar-benar “menghibur” seperti buku yang membahas praktik periklanan. Mengapa? Karena di buku periklanan itu banyak gambarnya. Pun beberapa waktu kemudian, di tahun 2005 atau 2006, adik laki-laki saya yang kuliah di Unpad Bandung, menanggapi serial TRANS TV berjudul “Di atas sajadah cinta”.

Saya bertanya, “Siapa yang bikin?”
Adik saya menjawab, “Habiburrahman El-Shirazy, pengarang Ayat-Ayat Cinta.”

Saya tetap tidak memperhatikan. Kemasabodohan saya semakin menjadi pada saat PB PII melakukan pelatihan kepenulisan. Salah seorang nara sumber berkomentar bahwa Ayat-Ayat Cinta adalah cerita yang membosankan dan tidak memberikan sesuatu yang baru pada dunia sastra. Ini semakin menguatkan saya untuk “cuek” terhadap AAC.

Salah satu kebiasaan di kampus sehabis kuliah adalah membuka laptop, online gratis dengan hotspot UI, lalu saling bertukar file perkuliahan di kelas antar mahasiswa. Pada saat Flashdisk salah seorang temanku bersarang di Laptop, aku melihat ada file AAC. Aku menanyakan apakah itu file lengkap, atau hanya sebagian. Ia mengatakan bahwa itu file lengkap. Aku langsung berkomentar sok pintar dengan menguraikan pandanganku dan beberapa orang bahwa AAC itu “tidak ada apa-apanya” .

Temanku berkomentar beda, “Bagus kok. Coba aja baca!”.
Lalu copy file itu berpindah ke flashdisk ku.

Sesampai di rumah, aku mencoba membacanya. Bosan. Aku serasa membaca roman HAMKA. Tidak terasa perbedaan dan tidak terasa sesuatu yang baru. Dari model penceritaan, alur, sudut pandang, kesimpulan saya , “HAMKA banget”. Apalagi saya membaca novel itu dari belakang. Fragmen kematian Maria, mengingatkanku pada sosok Hayati di “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”. Sungguh, komentar saya, novel ini biasa.

Apakah dengan demikian berarti jelek? Nanti dulu. Novel ini bagus walaupun menggunakan cara biasa dalam penulisan dan penceritaannya. Dengan alur yang dapat ditebak, AAC sebenarnya cukup menghibur dan secara substansial memberikan makna baru tentang tujuan hidup, komitmen dan cita kelembutan Islam. Sosok Aisha, yang bercadar merupakan bentuk pembalikan luar biasa citra Cadar yang selama ini diidentikkan dengan kekerasan, kekakuan dan anti kemajuan. Sosok Aisha menghadirkan wajah lain kesalehan. Ia, yang bercadar, ternyata seorang pengusaha yang mendapatkan keuntungan dari Kapital yang diinvestasikan keluarganya dari sejumlah usaha. Aisha memberikan view tentang wajah perempuan bercadar yang juga mampu bersaing dalam pola kehidupan modern bahkan western. Aisha bahkan tidak malu-malu menikmati mobil bagus –yang hampir ditabukan dalam budaya komunitas bercadar-. Jujur, saya lebih terpesona oleh sosok Aisha ketimbang Fahri. Mungkin karena Aisha perempuan dan saya Laki-Laki..he..he..

Saya tidak mau mengomentari novel AAC terlalu banyak. Bukan karena nggak enak sama kang Abik, tapi takut ntar novelnya tambah laku, dan saya gak dapat apa-apa dari promo gratis ini..he..he.. (dasar kapitalis!)

Saya lebih suka mengomentari film AAC yang lagi hangat-hangatnya. Saya ingin komentari tentang pemilihan pemain, perwatakan dan logika penceritaan ditambah mungkin dengan komentar ringan yang lain. (Gayana, ji !)

Pertama tentang pemain. Ada Fahri yang diperankan Fedi Nuril. Untuk yang satu ini, secara personal, Fedi gak terlalu bermasalah. Walau citra Fahri bukan bagian dari dirinya, namun yang namanya actor ya… harus bisa. Walaupun, untuk kasus film religi, penonton tetap berharap banyak bahwa sang actor tidak hanya baik ketika di film, namun di luar acting, ia tetap bisa menjadi teladan. Kasus serupa juga akan banyak mendera pemeran yang lain di film ini.

Kedua, pemeran Aisha, Rianti R. Cartwight. Untuk tampilan, Rianti cukup Ok. Kecantikannya cukup bisa mewakili perwajahan Aisha, walau di Novel dikatakan bermata biru dan keturunan Jerman-Turki-Palestina. Wajah Rianti cukup mirip saat bercadar. Tetapi saat cadarnya dibuka, agak kurang pas, kurang Jerman, kurang Turki dan kurang Palestina. Namun tidak terlalu masalah. Namun untuk ekspektasi di luar acting, Rianti terlalu jauh dari Aisha. Rianti, belum bisa –sejauh ini- menjadi Aisha untuk dapat diteladani penonoton. Sebagai VJ MTV, Rianti mewakili budaya pop yang menghinggapi massa anak muda hari ini. So, pemilihan Rianti sebagai Aisha, gagal untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan misi “Dakwah” di Film ini. (Rianti, please, jangan rusak Aisha…!)

Ketiga, Maria yang diperankan oleh Carissa Putri juga menghadapi masalah yang sama tentang face. Walaupun putih, namun putih Carissa tidak seperti Arab. Karakter perempuan Arab dengan mata besar, hidung macung kurang terwakili. Mungkin, kalau Najwa Shihab masih muda, akan lebih tepat memerankan sosok Maria.

Keempat, Nurul. Melanie Putria, cukup pas memerankan Nurul dari segi wajah. Lha Iya lah, wajah Nurul emang harus Melayu, karena Nurul ddalah putrid Kiai. Hanya saja, sosok Melanie, bukanlah sosok yang bisa merepresentasi Nurul di luar Film. Melanie adalah mantan Putri Indonesia 2002. Walaupun berdarah Minang, Melanie tidak dibesarkan di Minangkabau. Apakah Melanie, mewakili citra putri Minang? Sepertinya belum. Pada saat kunjungan Miss Universe 2002, Oxana Fedorova, Melanie sempat menyatakan kesiapannya berbikini di Pemilihan Miss Universe 2003, yang kebetulan saat itu Indonesia masih belum ikut. Mana mungkin Nurul berbikini? Tapi mudah-mudahan Allah memberikan Hidayah dan Melanie berubah..(Langsung memegang batu raja abad, Ksatria Baja Hitam, he..he)

Kelima, Noura. Sosok ini diperankan oleh Zaskia Adya Mecca. Sosok Zaskia selama ini diidentikkan dengan sosok protagonis. Suksesnya “Kiamat Sudah Dekat” tak lepas dari kemampuan Zaskia mengaplikasikan ke-“Sarah”-annya dalam kehidupan nyata sehingga semakin melengketkannya di hati masyarakat Muslim. Zaskia mewakili symbol perlawanan hegemoni dunia hiburan yang sarat dengan keterjauhan dari nilai-nilai reliji dan menghadirkan tawaran lain yang membuktikan bahwa agama tidak menjadi halangan dalam dunia entertainment. Zaskia tidak sempurna, namun ia adalah symbol pada hari ini. Karakter Zaskia, lebih kuat dari pada artis berjilbab lainnya seperti Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, Inneke Koesherawati, Meidiana Hutomo, Astri Ivo, Anneke Puri, Cici Tegal atau Novia Kolopaking, karena Zaskia berani memilih jalan itu disaat masih muda.. Moga Allah menjaganya.. So, untuk di Luar acting, Zaskia, cukup tepat menjadi teladan.

Sayangnya, Zaskia tidak berperan sebagai Nurul yang menurut saya merupakan peran terbaik untuknya. Hampi semua blog dan milis yang membahas ini menyetujui Zaskia sebagai Nurul. Tapi oke lah, sang Tuhan kecil (Tuhan adalah Sutradara Besar, dan Sutradara adalah Tuhan Kecil) memutuskan Zaskia sebagai Noura. Di sinilah letak masalahnya. Zaskia tidak bertampang Arab sama sekali. Zaskia sangat sunda seperti dikatakan Hanung di Blognya. So, menempatkan Zaskia sebagai Noura terkesan sangat dipaksakan.

Keenam, Bahadur… Saya gak tahu namanya. Namun jelas sosok ini mengecewakan. Apa mas Hanung lupa, jika Bahadur itu adalah keturunan Sudan. Artinya, Bahadur adalah Afrika Negro, namun sosok Bahadur di Film AAC lebih mirip dengan suku Dravida di India. Di Minang, orang India Dravida disebut orang Kaliang atau Keling di Melayu. Karena itu pula, orang yang kulitnya agak gelap akan disebut Kaliang di Padang. Afrika negro, biasanya berambut keriting, hitam, hidung tidak mancung. Berbeda sekali dengan India Dravida.

Beberapa pemeran lain juga sepertinya menghadapi masalah yang sama. Ayah Noura, Tuan Adel yang diperankan Rudi Wowor lebih terlihat sebagai Belanda ketimbang Mesir. Logatnya pun Belanda:)

Selanjutnya perwatakan.
Fahri di Film AAC, terlihat terlalu lugu. Tidak seperti anak S2 Al-Azhar yang cerdas. Saya punya banyak teman di Al-Azhar. Kebetulan teman –teman PII Padang Panjang yang kebanyakan dari Thawalib, melanjutkan studi di Mesir. Rata-rata mereka berpenampilan necis, tidak seperti Fahri di AAC yang tidak terlihat necis. Aura kewibawaan, kefaqihan, sorot mata penuh harapan, optimisme dan target hidup yang jelas, tidak tergambar dalam watak di Film, kecuali hanya ditampilkan dalam bentuk skema peta hidup di dinding kamar. Kehangatan Fahri dengan dengan Ibu Maria, tidak tereksplorasi, begitu juga dengan teman-temannya. Sosok Fahri terlihat mudah panic dan terlalu pasrah dengan keadaan. Keseharian Fahri sebagai penerjemah pun tidak tergambarkan sedikitpun.

Aisha di film, lebih emosional dan tidak sedewasa di Novel. Aisha terlihat egois, kurang bisa menerima suaminya, dan terlalu “misterius”. Anehnya, setelah menikah, sosok Aisha terlalu diumbar.

Maria, di Novel digambarkan cerdas. Ini terbukti dengan kemampuannya menjadi teman diskusi Fahri, membantu menerjemahkan buku dan aktifitas inteleknya cukup baik. Sisi ini tidak tergambar di Film. Maria terlihat lebih manja, dan sisi intelektualnya tidak muncul dengan signifikan.

Nurul di Novel adalah ketua Wihdah yang dewasa, membina banyak orang, dan juga cukup dewasa ketika bertemu Aisha. Di Film, sisi kedewasan Nurul sebagai ketua Wihdah tidak terlihat kecuali saat menyelamatkan Noura. Nurul yang sebenarnya mampu memanage rasa cemburu, di Film terlihat tidak bisa menahan hati. Terlihat dari dialognya dengan Aisha di Kampus Al-Azhar sambil meremas keras jeruk yang ditawarkan denga paksa kepada Aisha. Bahkan juga menawarkan bermacam-macam buah-buahan pada Aisha yang tidak berselera. Kalau saya yang jadi Aisha, saya akan bawa kantong kresekkan, buah-buah itu saya bungkus, dibawa kekost-an untuk dijual kepada teman-teman seharga gopek perbuahnya! He..he.. (Kapitalis Loe!)

Logika Cerita.
Saya sangat mengapresiasi usaha Mas Hanung menginterpretasi cerita ini. Makanya saya tidak akan membahas perbedaan alur cerpen dan novel termasuk kejutan bahwa Aisha, Fahri dan Maria sempat berumah tangga. Namun saya lebih melihat koherensi cerita ini.

Pertama, adegan saat Fahri menelepon Maria untuk menolong Noura yang sedang disisksa Bahadur. Pada saat Bahadur memukul Noura, Fahri menelepon Maria dan Mengatakan kalau ia sudah tidak tahan lagi. Menurut saya, kejadian yang menimpa Noura belum mengisyaratkan klimaks yang bisa menjadi logis untuk dinyatakan sebagai ketidaktahanan lagi oleh Fahri. Kalau boleh usul, adegan penyiksaan itu ditambah beberapa kali lagi dengan menggunakan view Fahri dan diikuti ekspresi gelisah Fahri. Sehingga kejadian malam itu bisa menjadi puncak rasa kasihan.

Kedua, adegan Maria tertabrak, diikuti dengan kekesalan Bahadur di Pengadilan, saat Maria hadir. Dua kejadian, yang merupakan kreasi Hanung ini, sebenarnya dapat diolah lebih berkorelasi. Tidak terlihat preseden apa pun sebelum dan sesudah tabrakan yang mengarah pada peran Bahadur dalam hal itu dan berhubungan dengan kesaksian Maria. Pun tidak ada satu screen pun yang memperlihatkan ekspresi Bahadur dalam persidangan sebelum pengakuan Maria. Semestinya ada satu screen bahwa Bahadur sedang bermain dalam kasus tersebut. Seolah-olah adegan ini hanya ditempelkan tanpa makna yang dielaborasi baik.

Aisha yang cemburu pada saat paman Nurul datang minta Fahri menikahi Nurul jelas tidak logis. Paman Fahri adalah orang Indonesia yang berbicara dengan Fahri menggunakan Bahasa Indonesia, sementara Aisha tidak paham dengan Bahasa Indonesia. Bagaimana mungkin Aisha cemburu, sementara ia tidak paham pembicaraan Fahri dengan Paman Nurul?? Kejadian yang sama terjadi saat Aisha membaca SMS Syaiful ke Fahri yang mengunakan Bahasa Indonesia. Kok ngerti ya??

Pada saat Fahri yang sedang bebincang dengan paman Nurul, Aisha sempat menuruni tangga tanpa Jilbab dan Cadarnya. Ini aneh dalam logika perempuan bercadar. Mengapa hijabnya bisa selongar itu? Biasanya perempuan bercadar lebih ketat, makanya ia bercadar.

Ketiga, komentar Istri Syekh Utsman saat Aisha meminta surat Noura, bahwa “Almarhum” tidak menitipkan apa-apa. Ini kejutan apa lagi? Tanpa preseden apa pun, kematian Syekh hadir begitu saja. Kenapa mati? Kalau toh mati, tentu hendaknya ada satu adegan juga sebelumnya yang memperlihatkan kematiannya. Minimal berita di koran, atau misalnya Eqbal memberitahu Fahri tentang kematian Syekh mereka. Jelas ini gak nyambung. Saya berasumsi, mungkin ada kejadian tertentu yang membuat alur ini ditempel begitu saja.

Keempat, Kesimpulan akhir Fahri tentang makna “Ikhlash” sebagai jalan penyelesaian masalah mereka terasa –sekali lagi- dipaksakan. Apakah ini meniru kesimpulan di “Kiamat Sudah Dekat”? Namun di KSD, kesimpulan ini muncul setelah pergulatan hebat. Tidak instant.

Saya tidak ingin mengomentari banyak soal seting lokasi, karena di blog Mas Hanung, cukup panjang diceritakan mengapa hasilnya seperti sekarang. Syuting yang terpaksa tidak di Mesir, Indor di Semarang dan Jakarta dan lain-lain.

Oke dech,
Sekarang yang agak mengganjal adalah tata busana. Beberapa Jilbab terlihat sangat Indonesia banget. Kecuali pada Nurul yang wajar bila berjilbab ala Indonesia, namun untuk sosok-sosok figuran terlihat kurang terperhatikan. Gaya berpakaian Noura di persidangan terakhir, walau menggunakan jilbab ala arab, namun menggunakan baju dan rok ala Zaskia di Indonesia..

Selain itu, sebagai cerita serius, yang tidak terlalu bergenre pop, tata bahasa di AAC perlu diperhatikan. Pengunaan kata “Nggak, kamu, maafin, bilang” sebaiknya digantikan dengan kata “Kau, engkau, dirimu, maafkan, katakan, dst.” Artinya sisi kebakuan perlu diperhatikan agar tidak merusah keseriusan film ini. Pengecualian dapat dilakukan pada adegan-adegan antara Fahri dengan teman satu Flatnya seperi Syaiful yang boleh-boleh saja menggunakan bahasa prokem karena sebaya. Saya menakutkan rusaknya keindahan tata bahasa Indonesia jika film-film tidak bertanggungjawab tentang ini. Apalagi sekelas film AAC yang berdimensi sastra, religi dan serius..

Lebih dari semua itu, selamat untuk Mas Hanung, Moga bukan hanya kerja professional, namun juga menjadi Ibadah…

Allhamdulillah, ada semangat syi’ar,walau sisi dakwahnya kurang tergarap, tapi cukup menggarami..

Saya tutup dengan mutiara kata dari Imam Ali AS, “Lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.”


1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete