Wednesday, February 11, 2009

Kambing Hitam sang Penyelamat

Selamat datang di dunia Politik !

Ucapan ini layak disampaikan pada kambing hitam atas kehadirannya di panggung manusia. Tak banyak hewan yang mendapatkan kehormatan dalam dunia manusia apalagi menjadi selebritas. Tercatat hanya dua singa yakni "Singa Podium" dan "Singa Betina", dua peloncat, "Bajing Loncat" dan "Kutu Loncat" serta "Musang berbulu Domba" yang bersama "Kambing Hitam" menjadi fenomena di dunia manusia. Sebenarnya masih ada makhluk lain yang juga sering jadi objek -"Sapi Perah"- namun lebih sering digunakan untuk benda mati semisal BUMN.

Kambing hitam adalah fenomena unik. Ia dicari dan dibenci. Ia ada dalam wilayah kecintaan dan kerinduan. Ia mengorbankan orang sekaligus menyelamatkan yang lainnya. Banyak manusia mengambil manfaat dari hewan yang satu ini sekaligus banyak pula yang harus menelan pil pahit karena kepadanya dipakaikan bulu makhluk Allah ini.

Kambing Hitam mengingatkan kita pada sebuah kisah. Ratusan tahun yang lalu di Tumapel, Jawa Timur, Kebo Ijo melaksanakan amanah dari tuannya, Ken Arok, yang sedang dimabuk cinta dan kuasa. Wajah ken Dedes begitu memikat lengkap dengan pesona ragawinya. Hari-hari Ken Arok dipenuhi mimpi akan cinta yang membara dan membakar. Cinta yang panas dan kasar, yang tidak memanjakan tapi menakutkan. Namun apa dikata, Ken Dedes yang jelita tak lebih dari khayalan di ruang mata. Lelaki lain, seorang penguasa di Tumapel, Tunggul Ametung telah lebih dahulu menyunting dan menyuntikkan bibit seorang putra, Anusapati.

Ken Arok marah, geram. Ia membenci Tunggul Ametung, penguasa yang selalu mengejarnya dan memusuhi profesinya sebagai perampok profesional. Gejolak cinta berbalut amarah menuntun Ken Arok pada sebuah kesimpulan berani, membunuh Tunggul Ametung. Dengan cara itu, ia akan dapatkan Ken Dedes sekaligus membinasakan penguasa yang mengancamnya. Maka dicarilah seorang Empu (pembuat senjata) untuk menciptakan sebuah senjata yang dipenuhi kesaktian. Bertemulah ia dengan dengan seorang Mpu Tua, Mpu Gandring, yang terkenal ahli dalam mencipta senjata. Sebuah keris sakti dipesan dan jangka waktu disepakati.

Waktu berlalu dan tibalah saatnya Ken Arok menagih janji Mpu Gandring. Namun apa dikata, Keris itu baru separuh jadi. Ken Arok murka. Keris setengah jadi direbut dari workshop Mpu Gandring dan dengan emosi yang menyala-nyala Keris itu bersarang ditubuh Mpu Gandring. Mpu Gandring menggeliat menahan sakit sembari meregang nyawa. Sebuah laknatpun terucap bahwa Keris itu akan membunuh banyak penguasa sesudahnya termasuk Ken Arok. Lalu Mpu Gandring pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan kesakitan bekas tusukan. Satu korban telah jatuh.

Ken Arok tidak bodoh. Dengan tenang ia provokasi Kebo Ijo untuk menghabisi Tunggul Ametung. Sejarah lalu mencatat kematian Tunggul Ametung di tangan Kebo Ijo dengan keris Mpu Gandring. Jagad Tumapel gempar, siapakah sang pembunuh? Ken Arok tanggap beraksi. "Kebo Ijo lah sang Pembunuh," Ken Arok bersaksi. Kini ia akan menuntut balas bagi kematian Tunggul Ametung. Kebo Ijo ia panggil. Dengan hangat dan senyuman penuh persahabatan, Kebo Ijo menahan sakit akibat Keris Mpu Gandring telah bersarang di tubuhnya. Ya, Ken Arok telah membinasakannya. Dua korban telah jatuh.

Ken Arok kini melenggang. Menjadi penguasa Tumapel sekaligus memperistri Ken Dedes yang telah hamil. Sebuah jalan tanpa ia duga telah terbuka. Menguasai Kediri, Negara yang Tumapel hanyalah salah satu distriknya. Ken Arok menyusun gerakan pemberontakan dari Tumapel. Kediri diserbu dan jatuh. Sang Raja, Kertajaya, menyingkir.

Di atas puing Kediri, Ken Arok mendeklaraskan Kerajaan Singhosari. Ia berkuasa menjadi raja. Namun kekuasaan membuatnya lupa cinta. Ken Arok tak lagi menjadikan Ken Dedes satu-satunya pujaan hati, ia menikahi perempuan lain, Ken Umang. Dibakar api cemburu, Ken Dedes membongkar kejahatan Ken Arok pada putranya dengan Tunggul Ametung, Anusapati. Anusapati terbakar marah dan dendam. Diam-diam ia curi Keris Mpu Gandring dari Ayah tirinya, Ken Arok. Ia suap Pengalasan, seorang pengawal Ken Arok. Dengan Keris Mpu Gandring, Pengalasan menusuk Ken Arok. Keributan langsung terjadi memancing adegan lama. Anusapati menusuk Pengalasan yang sedang melaporkan keberhasilan tugasnya dengan Keris Mpu Gandring lalu bersaksi telah berhasil membalas kematian Ayah tirinya.Empat korban telah jatuh.

Tohjaya, Putra Ken Arok dengan Ken Umang menyadari kelihaian Kakak tirinya. Dengan alasan mengajak Anusapati bermain sabung ayam, ia tusuk kakak tirinya itu di medan aduan dengan keris yang sama. Sayang, Tohjaya tidak cerdas. Ia tidak menggunakan kambing hitam. Selang beberapa bulan, putra Anusapati, Ranggawuni, menghabisi Tohjaya dengan keris yang sama. Enam korban telah jatuh dengan satu keris.

Kambing Hitam terbukti sukses menyelamatkan sehingga Ken Arok, dan Anusapati sukses berkuasa bertahun-tahun. namun Tohjaya yang tidak menggunakannya hanya berkuasa selama beberapa bulan saja. Kambing hitam telah menyelamatkan mereka.

Sejarah Islam juga mencatat pengkambinghitaman sebagai sarana meraih kuasa. Tepat setelah Utsman bin Affan, Khalifah ketiga dibunuh, Aisyah, Talhah bin Ubaidillah,dan Zubair bin Awwam segera mengkambinghitamkan Sayyidina Ali KW. Perang Saudara pun digelar dengan dalih menuntut balas atas kematian Utsman. Sayyidina Ali menang, namun fitnah telah menyebar. Kejahatan politik desas-desus ternyata lebih sadis dibandingkan pedang. Hawa Tanah Arab memanas. Seorang licik bernama Muawwiyah bin Abu Sufyan -seorang yang masuk Islam hanya karena ketakutan- memanfaatkan fitnah ini. Dengan dalih yang sama, Muawwiyah mengkambinghitamkan Sayyidina Ali. Perang Shiffin pecah. Begitu kalah, Muawwiyah menuntut perundingan digelar, si Licik Muawwiyah dan kawannya yang bahkan jauh lebih licik -Amr bin Ash- mempecundangi Amirul Mukminin Ali KW dalam persekongkolan jahat di perundingan itu. Lalu politik pengkambinghitaman merubah total arah sejarah Islam dari tangan "Khulafaaurrasyidin" ke tangan penguasa-penguasa yang menunggangi Agama untuk kepentingan kekuasaannya.

Sore kemarin, SBY juga menyelamatkan diri dengan cara menghitamkan kambing yang ada di kandang Partainya sendiri. SBY tak berani secara gentle menunjukkan diri sebagai pemimpin yang bertanggungjawab.

Selamat datang Ahmad Mubarrok! Kambing Hitam terbaru :)


No comments:

Post a Comment