Saturday, March 14, 2009

PAN : Destroying Image

Partai Amanat Nasional meluncurkan iklan baru yang beberapa hari belakangan ini wara-wiri di stasiun televisi. Formatnya sederhana, seorang perempuan berwajah melayu berpakaian ala sari India menyanyikan lagu lama "dil di kudil-kudil" tapi syairnya dirubah dengan ajakan memilih PAN no. 9. Di sekeliling perempuan tersebut terdapat pasar dipenuhi laki-laki yang turut berjoget mengiringi si perempuan. Lama-kelamaan, kelompok laki-laki ini malah makin mendekati perempuan dengan rapat sambil terus bernyanyi dan berjoget. Pada bagian akhir muncullah Ketua Umum PAN menadahkan tangan sambil tersenyum berkata, "Ayo, pilih PAN No. 9".

Iklan ini menghibur. Setidaknya nyayian itu bisa jadi lucu bagi sebagian kalangan yang telah kenal sebelumnya. Walaupun sebenarnya iklan ini terlalu hambar untuk memberikan pengaruh. Respon yang paling mungkin hanyalah sekedar senyum. Tidak ada apa pun yang ditawarkan iklan ini selain goyangan perempuan dan senyum manis sang Ketua Umum.

Setelah Amien Rais tak lagi menjadi Ketua Umum, PAN mengalami disorientasi. Nyaris kita tak mengenal lagi apa misi spesifik yang diusung Partai ini. Jika dulu, PAN adalah partai kaum reformis yang digawangi prang-orang muda energik dan terpelajar, maka saat ini teriakan reformasi terdengar lengang di sana. Kaum muda terpelajar tak lagi menonjol. PAN sekarang lebih mirip Golkar di zaman Orde Baru, penuh artis dan hiburan.

Amien Rais adalah tokoh reformasi yang memadukan secara unik beberapa kualitas sehingga membuat PAN layak dihormati. Ia adalah ulama karena ia Ketua Muhammadiyah, ia Intelektual karena ia dosen di berbagai tempat, ia juga bagian dari kelompok anti kemapanan. Dengan beberapa atribut itu, PAN menjadi sebagai titik temu bagi kalangan intelektual progresif sekaligus religius. Namun sepeninggalnya PAN dipimpin oleh sosok yang sangat bebeda. Meski aktifis PII dan HMI, kiprah Soetrisno Bachir di dunia pergerakan tak begitu nyaring walaupun hampir semua tokoh PII dan HMI mengenal beiau sebagai alumni yang cukup peduli. Soetrisno mewakili kalangan pedagang, tidak kalangan intelektual (ini diakui oleh Soetrisno Bachir sendiri) apalagi ulama.

Ke-Muhammadiyah-an Amien menbuat PAN secara alamiah menjadi rumah politik bagi aktivis Muhammadiyah. Namun, Soetrisno Bachir tidak memiliki itu. Malah sebagian orang Muhammadiyah mempertanyakan seberapa hijau darah Muhamadiyah yang mengalir di tubuh Soetrisno Bachir. Sebagai reaksi, anak-anak muda Muhammadiyah mendirikan Partai Matahari Bangsa (PMB), rumah baru bagi warganya. Secara berseloroh, PMB sering pula disebut sebagai singkatan dari Partai Muhamadiyah Beneran. Adanya PMB secara langsung akan membawa pulang dua kelompok sekaligus. Pertama, kaum muda Muhammadiyah yang secara umum kecewa pada PAN setelah Amien 'mewariskan' PAN bukan pada warga Muhammadiyah, dan kedua, warga Muhammadiyah yang tidak benar-benar ikhlas dengan pilihan PAN menjadi partai plural. Seperti dipahami, tidak semua warga Muhammadiyah sepakat dengan ijtihad politik Amien.

Bahkan PAN sebenarnya tak hanya ditinggal oleh warga Muhamadiyah, kaum intelektual muda yang selama ini mendukung citra modern PAN juga telah lama hengkang. Faisal Basri hengkang sejak 2001 yang diikuti banyak elemen progresif, sampai hengkangnya Jeffrie Geovanie ke Golkar yang sekaligus menjadi pukulan telak bagi citra PAN. Konsekuensinya, suara PAN melemah di pemilu 2004 dikalahkan PKS.

Dengan kondisi ini, ada dua langkah yang harus dilakukan PAN. Pertama, melakukan berbagai program retention untuk menahan laju arus mundur warga Muhammadiyah ke PMB, dan kedua –jika yang pertama gagal- memperluas pasar lebih dari sekedar captive market yang telah ada. Strategi pertama tampaknya sulit karena pada kenyataannya, orang-orang di internal PAN hanya memiliki keterikatan minimal dengan Muhammadiyah. Dengan demikian, PAN kesulitan untuk membangun komunikasi bagi retensi pemilih Muhammadiyah. Sementara warga Muhammadiyah sudah punya PMB yang berasosiasi lebih dekat.

Pilihan kedua tampaknya menjadi pilihan terbaik bagi PAN. Mencoba bernafas keluar mencari target baru. Dengan cara ini, PAN sedikit melupakan captive market selama ini. Strategi yang diterapkan adalah dengan merekrut artis-artis, aktivis ormas selain Muhammadiyah dan mendekati para pengusaha kecil. Secara substansial tidak ada masalah dengan hal ini walaupun belum terntu bermanfaat. Namun usaha pelebaran sayap yang lain, yakni iklan seperti di atas, sunguh telah menghancurkan citra PAN sendiri. Jika sebelumnya PAN adalah partai kaum refomis, intelektual, religius maka sekarang dengan iklan itu, PAN kehilangan citra modern, reformis, intelektual dan religius sekaligus.

Kasihan PAN.



No comments:

Post a Comment