Sunday, March 15, 2009

Target Politik PKS

PKS kadung pasang target tinggi sebesar 20% pada Pemilu 2009. Sebuah target fantastis sekaligus ambisius mengingat semenjak era multipartai, hanya dua partai yang mencapainya; Golkar dan PDIP. Keduanya bergantian berada di dua besar puncak perolehan suara di pemilu 1999 dan pemilu 2004. PKS sendiri di Pemilu 2004 hanya memperoleh suara 7% setelah di pemilu 2009 –ketika masih bernama PK- memperoleh 1%. Peningkatan suara inilah yang membuta PKS sangat percaya diri dengan target ambisius itu.

Logika PKS dapat dipahami secara sederhana. Bahwa dengan peningkatan suara tujuh kali lipat berarti PKS hanya menambah enam orang dari setiap kadernya. Misalnya satu kader, merekrut enam orang pemilih lainnya yang terdekat sehingga suara PKS meningkat tujuh kali lipat. Kader-kader PKS biasanya memulai dari yang terdekat seperti keluarga, dan tetangga. Sementara jika hendak mencapai 20 % dari pemilu 2004 ke 2009 cukup menggunakan rumus 1 get 2 saja. Dengan demikian suara PKS akan meningkat tiga kali lipat dari 7% ke 20 %. Sehingga peningkatan suara sebesar itu dianggap realistis oleh pengurus Partai ini terlepas bahwa target ini hanya sekedar target belaka.

Namun apakah sesederhana itu? Politik bukanlah teori matematika yang dapat dikerjakan melalui operasi hitung yang telah baku. Politik melibatkan banyak variabel dengan kejutan dan sensasinya masing-masing. Ternyata ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan agar kalkulasi ini lebih realistis.

Pertama, meskipun terjadi peningkatan suara hampir tujuh kali lipat dari pemilu 1999 ke pemilu 2004, bukan berarti juga terjadi peningkatan kader sebanyak itu pula. Kader merupakan anggota PKS yang solid dan siap untuk diterjunkan ke lapangan. Jumlah kader ini tak sampai separuh dari suara PKS. Paling banyak jumlahnya hanya 2-3 juta orang. 4-5 juta lainnya hanya swing voters atau orang yang diajak untuk memilih PKS menggunakan pendekatan primordial. Fakta tentang ini banyak terungkap misalnya dengan lupanya mereka dengan partai yang dipilih. Beberapa responden yang ditanyai empat bulan setelah pemilu legislatif 2004 ternyata lupa apa nama partai yang dipilih empat bulan sebelumnya dan hanya mampu menyebutkan beberapa ciri logonya. Setelah ditanyai lebih lanjut, mereka menjelaskan bahwa keputusan itu lebih karena saran anaknya –kebetulan mahasiswa di PT yang ada kelompok kajian Islamnya- untuk mencontreng No. 16 (nomor urut PKS di 2004). Dengan demikian, tidak mungkin 7 juta suara di 2004 dapat dijadikan modal untuk pemilu 2009. Sesuai dengan perkiraan jumlah kader PKS, suara aman untuk dijadikan modal pemilu 2009 hanya sekitar 3 juta. Beberapa survey juga menunjukkan angka yang sama. Lebih lanjut asumsi 1 get 2 jadi tidak tepat. Paling mungkin untuk mencapai target 2009 adalah kembali pada rumus 1 get 6.

Kedua, hitungan 1 get 6 belum tentu realibel. Perilaku politik PKS yang tercitrakan di depan publik tidaklah terlalu positif. Jargon "bersih peduli" di pemilu 2004 tidak dapat dipertahankan dengan baik oleh PKS. Pemeriksaan terhadap anggota FPKS DPR RI Abu Bakar Al-Habsy, tertangkapnya anggota PKS Jambi di panti pijat, illegal logging di Bali, dugaan pemerkosaan di Indramayu, dan sikap PKS yang mencla-mencle dalam pemerintahan merupakan kerikil-kerikil yang menyandung langkah PKS. Dengan kasus-kasus ini, PKS terancam ditinggalkan pendukung ideologisnya. Artinya suara aman PKS malah semakin berkurang dan rumusnya berubah.

Ketiga, basis suara PKS yang semula adalah kaum muda terdidik di perkotaan mulai mempunyai pilihan. Ada partai Gerindra yang mulai menyodok, Golkar dengan tokoh muda terdidik seperti Indra J. Piliang dan Jeffrie Geovanie. Tokoh luar partai yang semula menjadi ikon PKS juga mulai beralih. Lihat saja Jana Julio, Ikang Fawzi, Ratih Sanggarwati tak lagi bersama PKS. Bahkan Ikang Fawzi dan Ratih Sanggarwati telah menjadi caleg di Partai lain. Secara umum tak ada lagi dikotomi antara PKS dan partai lain sehingga memudahkan terjadi perpindahan dari dalam ke luar PKS.

Keempat, secara kebetulan ada faktor eksternal di tahun 2004 yang mendongkrak suara PKS yakni boomingnya nasyid di tahun 2003. Meski pun tidak ada pernyataan resmi yang menyatakan nasyid sebagai musik PKS, realitas lapangan menunjukkan ada kedekatan antara PKS dengan nasyid. Fenomena nasyid 2003 dengan berbagai coraknya cukup mampu menyedot perhatian pada PKS. Sementara sebelum pemilu 2009, tak ada tanda-tanda nasyid kembali booming

Namun demikian, ada juga peluang yang mungkin dimainkan PKS walaupun sangat berbahaya.

Pertama, meraih pemilih moderat yang selama ini dimainkan segmen PAN. Dengan kecenderungan PKS untuk lebih ke tengah, maka segmen PAN merupakan peluang. Sayangnya, permainan ini punya kelemahan karena pada dasarnya PKS tetaplah partai kanan yang belum tentu sejalan dengan segmen PAN dan ternyata masa PAN akan lebih tersedot ke PMB, Gerindra, dan HANURA.

Kedua, semakin ke tengah dengan mencoba menangkap pasar ABG yang merupakan pemilih pemula. Kelompok ABG cenderung tidak ideologis dan apolitis. PKS dapat masuk dengan pendekatan bak selebritis populer lengkap dengan bahasa gaulnya. Namun tantangannya adalah PKS akan kehilangan basis massa ideologisnya.

Ketiga, mencoba mendekati basis massa PKB yang sedang kehilangan arah pasca hilangnya peran Gus Dur di PKB Muhaimin. Namun lagi-lagi PKS menghadapi kendala karena massa PKB ini lebih patuh pada Gus Dur yang tak cukup harmonis dengan gerakan macam PKS. Gus Dur mungkin akan lebih mudah bekerjasama dengan PDP , Gerindra, dan HANURA.

Dengan melihat beberapa pertimbangan ini, tampaknya target 20% hanya akan jadi mimpi PKS walaupun mencoba menggunakan berbagai bentuk iklan nirideologis. PKS sungguh berada di pertaruhan antara ekspansi pemilih dan kehilangan pemilih ideologisnya. Target 20% paling nanti hanya akan jadi 4-5% saja walaupun dengan asumsi ketakterdugaan maka ada peluang PKS mendapatkan 8% suara. Akan tetapi ada info bahwa ada survey internal PKS yang menunjukkan angka 11%. Nah..



2 comments:

  1. garis2 ideologis scr artifisial tmpk memudar. Semua partai berlomba2 ke tengah mnjd catch-all party, trmsk PKS. PDI-P pun membangun Baitul Muslimin di bwh kepemimpinan seorang NU Liberl lulusan Azhar, Zuhairi Misrawi.

    Ambo geleng2 kpl pd keberanian PKS menasbihkan Soeharto sbg pahlawan dlm iklan. Produktif atau kontra kah?

    ReplyDelete
  2. @ Sonny : Sumber internal PKS menyebutkan bahwa berdasarkan survey LSI, 63% penduduk Indonesia mengatakan Soeharto adalah Presiden terbaik. Analis internal PKS melihat bahwa ternyata kantong suara PKS berada di zona-zona yang dulunya -setidaknya- netral terhadap Soeharto. Artinya, suara PKS ternyata menyodok massa kanan-tengah, bukan kanan-kanan yang memang anti Soeharto.
    Dengan pertimbangan ini, PKS memandang bahwa Iklan Soeharto tidak akan berpengaruh pada massa pemilih mereaka bahkan secara postif justru akan mengakibatkan rush pada partai tengah-tengah seperti Golkar.
    So gimana sebenarnya? kita lihat aja pemilu nanti. Doa saya, moga PKS insaf :) :)

    ReplyDelete