Monday, October 8, 2012

Kisah Perjuangan Mempertahankan Jilbab

Aku menulis kisah ini di bawah deraian air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Tak lagi aku pedulikan bulir demi bulirnya membasahi keyboard komputer. Aku tetap menarikan jemari di antara tuts-tuts yang mulai becek dengan penuh harap ada orang yang mau mendukung dan peduli pada deritaku ini.

Sejak kecil aku ikut dengan kakak karena orang tua kami tak mampu menyekolahkanku. Ayah bekerja serabutan. Kadang membantu menggali sumur, mencuci mobil, membersihkan kebun di rumah orang gedongan, dan jadi aparat hansip di RT kami. Kalau sedang sepi, ayah memulung sampah di rumah-rumah warga. Sementara itu ibu membantu mencari nafkah sebagai buruh cuci. Jangan dibayangkan di rumah kami ada TV apalagi komputer. Karena itulah kakak mengajakku ikut dengannya untuk mengurangi beban Ayah dan Ibu.


Kakak tidak ingin aku terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Aku disekolahkan di sebuah sekolah di dekat rumah agar tidak keluyuran sepulang sekolah. Sebenarnya dengan kehidupan ekonomi yang pedih, tidak mungkin aku keluyuran. Mau jajan saja susah. Akibatnya aku sering menghindar dari teman-teman. Aku takut kalau mereka mengajakku jalan-jalan karena aku tidak punya uang. Aku jadi penyendiri, jarang bergaul dan sering bersunyi-sunyi. Aku malu dengan kondisiku. Minder.

Dalam kesendirian itulah aku berkenalan dengan seorang kakak senior yang mau menjadi teman. Perkenalan berawal dari sudut perpustakaan -sebuah sudut tempat aku lari dari keramaian. Ia menyapa, mengajak berkenalan. Kami larut dalam obrolan, canda tawa, dan tentunya juga duka. Ada kesamaan masa lalu di antara kami. 

Dia bercerita bahwa dulunya ia juga seperti diriku, penyendiri, pencemas, seperti orang kehilangan harapan. Akan tetapi sejak setahun terakhir ia mulai berubah. Dia kemudian memutuskan berjilbab hingga sekarang. Jujur di mataku, dia terlihat begitu sempurna sebagai teladan. Tidak terbayangkan bahwa dahulunya dia juga mengalami kenestapaan seperti diriku.

Malang bagiku, perkenalan kami berlangsung singkat. Semester ini dia pindah ke kota lain. Aku benar-benar merasa sepi sekaligus cemas. Sepi karena tak ada lagi teman satu-satunya tempat bertukar lara, sekaligus cemas karena tanpanya aku bisa-bisa kembali ke kubangan duka sendirian. Tidak, aku tidak boleh selalu begini. Sampai kapan aku harus menjadi manusia lemah? Aku harus bangkit.

Meski tak lagi berjumpa, seniorku ini benar-benar menjadi inspirasiku. Aku harus mengikuti rute yang pernah dia tempuh agar juga bangkit seperti dia. Kubuka kaleng celengan, ada beberapa keping uang logam. Cukuplah. Dengan langkah pasti, aku melangkah ke sebuah toko perlengkapan muslim. Kulirik jejeran buku-buku yang bagus. Kuambil satu buku. "Cukup satu dulu", pikirku. Maklum, isi celenganku tak banyak.

Aku berpindah ke sisi yang lain di toko ini. Selembar kain kuraih. Ya, bukankah seniorku bangkit setelah berjilbab? Aku pun akan berjilbab. Aku heran mengapa aku tak pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya? Aku mantapkan diriku untuk berjilbab.

Esoknya aku bersiap ke sekolah. Ini hari pertama aku berjilbab. Dadaku bergemuruh, deg-degan, takut, cemas, senang, bercampur. Jantungku menghentak-hentak seperti house music. Setelah mematut diri di cermin, aku merasa penampilanku cukup baik. Tidak terlalu rapi memang, tapi cukuplah untuk pemula. Aku melangkah ke pintu kamar, bersiap keluar. Tapi tiba-tiba darahku tersirap. Aku mundur. Aku cemas bagaimana respon kakakku? Aku belum sempat mendiskusikan hal ini dengannya. Bagaimana jika dia tidak sepakat dengan rencanaku? Sebagai orang yang menumpang di rumahnya dan menjadi tanggungannya aku tentu tak mungkin melawan kehendaknya.

Aku mundur. Kain putih segi empat itu aku copot dari kepala. Dengan rasa sedih, kulipat baik-baik dan kumasukkan ke dalam tas. "Nanti saja kupasang setelah aku dekat dengan sekolah." Gumamku. Lalu aku melangkah ke luar.

Begitu berjarak 100 meter sebelum gerbang sekolah, aku mencari tempat yang agak tersembunyi. Kubuka kembali tas, kain segi empat itu aku keluarkan. Tak telihat tanda-tanda kekusutan. Berarti cukup baik untuk dipakai hari ini. Entah kenapa aku merasa sangat percaya diri dan mantap sekali.

 Aku memasuki gerbang sekolah dengan girang. Percaya diri. Kulihat banyak yang terheran-heran menatap. Mungkin mereka kaget karena aku tampil lain dari biasanya. Biasanya kuyu, sekarang riang. Biasanya tak berjilbab, sekarang berjilbab. Aku menikmati tatapan heran mereka. Aku masuk ke kelas, menaruh tas, lalu duduk di bangku sembari membaca buku pelajaran yang akan dipelajari sebentar lagi.

"Teet, teet, teet." Bel tanda masuk berbunyi. Satu per satu siswa masuk ke dalam kelas. Mereka semua menatapku dengan tatapan tidak biasa. Aku tersenyum dalam hati. Bangga. Tak lama kemudian Pak Guru masuk ke kelas.

Rasa banggaku tercabut seketika ketika Pak Guru menatapku tajam sambil menghardik menyuruh aku keluar dari kelas. "Jangan ikut jam pelajaran saya jika kamu masih pakai kain putih itu di kepalamu!" Katanya menjatuhkan vonis. Hentakan langkah kakinya di depan kelas serasa seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan hukum. Guru yang satu ini memang dikenal keras kepada siswanya. Aku terluka. Gontai aku ke luar.

Aku masih ingin belajar tapi aku tak ingin melepas jilbab. Bagiku jilbab ini adalah simbol kebangkitan, simbol hasrat untuk maju. Jilbab ini bagiku bukan sekedar kain penutup kepala. Aku mendatangi guru piket, berharap ia mau melobby agar aku bisa belajar. Awalnya dia menolak tetapi dengan sedikit memelas hatinya melunak. Dia memberi syarat, aku bisa masuk belajar untuk hari ini dengan memakai jilbab. Hari ini, hanya untuk hari ini. Itu artinya jika besok masih berjilbab aku harus siap menanggung resikonya sendiri, tanpa bantuan siapapun. Aku menyanggupinya karena bagiku ini adalah peluang untuk melunakkan hati Pak Guru sehingga besok aku tidak memerlukan bantuan guru piket lagi agar bisa masuk kelas. Aku mengangguk tanpa sepakat.

Guru piket mengambil secarik formulir surat izin masuk. Beberapa saat ia mengisinya lalu menyerahkan surat itu ke tanganku. "Berikan surat ini pada guru yang mengajar di kelasmu." Katanya. Aku meraih surat itu dan langsung berbalik menuju kelas. Antara ruang guru piket dengan kelas, penasaran aku membuka surat itu dan membaca isinya.


SURAT IZIN MASUK
Memberikan izin kepada siswa yang namanya tersebut di bawah ini untuk masuk mengikuti pelajaran mulai jam pelajaran ke 2
Nama : SLAMET SUDIRMAN PUTRA
Kelas : 1 A

Aku melangkah mengetuk pintu kelas.


3 comments:

  1. critanya menyentuh ke hati...
    cuman yg aku heran...knapa surat dari Piket namanya seperti nama laki-laki ya? (Nama : SLAMET SUDIRMAN PUTRA)...

    ReplyDelete