Thursday, August 21, 2014

Tom to Top ; Hikayat Tom Burger

Tom Burger di salah satu outlet Tom Burger

Medio 2003, Tom berkutat di muka layar komputer Pentium 1 di kamar kostnya. Ia sedang merancang proposal untuk diajukan dalam  Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan dari Drektorat Jenderal  Pendidikan Tinggi. Terbukalah kembali semangat Tom untuk memulai bisnis baru yang tak diduga di kemudian hari akan melejitkan namanya.

Tom memang penggila kewirausahaan atau enterpreneurship kata orang modern. Di OSIS SMAnya, Tom memperkenalkan kegiatan lomba cipta logo dan kalender sekolah yang nantinya akan jadi event tahunan sekolah. Dari kegiatan itu, OSIS mendapatkan pemasukan hasil penjualan stiker dan kalender. Ketika menginjak bangku kuliah, Tom menjadi agen tabloid lokal, ikut pula menjadi marketing alat kesehatan dan produk telepon PASTI (salah satu pioneer CDMA masa itu), hingga menjajal Pasar Raya Padang mengampas (menjadi canvasser) perhiasan dan asesoris imitasi. Dunia aktifisme tak ditinggalkannya. Pada masa bersamaan Tom masih sempat bergelut di dunia NGO dan dunia training. Pendek kata : TAGEH !!

Medio 2004 proposal Tom disetujui Ditjend Dikti. Dengan modal 5 juta rupiah sebuah outlet burger dilaunching. Karena menyasar pasar mahasiswa, merek Burger Mahasiswa (Burma) diperkenalkan. Outlet dipajang di kampus dan ternyata cukup membuat lutut menggigil ketika memulainya. Betapa tidak, mahasiswa cum aktifis itu kini dipaksa berdiri di outlet bersenjata pisau dapur dan sendok penggorengan. Ngeri kawan… :)

Saat program DIKTI berakhir, Burma terseok. Privilege yang diberikan kampus tak lagi bisa dinikmati. Tom memasuki alam baru, alam bisnis. Tom bukan lagi mahasiswa yang membuka usaha sebagai bagian dari program DIKTI. Ia harus merangkak seperti pedagang lainnya, melalui prosedur yang berliku dan tidak selamanya menyenangkan. Burma berangsur hilang dari pandangan mata.

Tapi itulah enterpreneur. Seperti kucing, dia punya 99 nyawa. Selang beberapa bulan, Burma yang mati dihidupkan lagi dengan brand “Burger DaTom”. Sebuah nama yang belakangan berevolusi menjadi “TOM Burger”. Brand baru ini dimulai dengan semangat baru. Tom yang baru saja beristri saat itu mulai meracik sendiri daging olahan untuk burger sembari terus belajar mengembangkan cita rasa roti walau belum mampu membuat pabrik sendiri. Singkat dalam waktu hanya 1 tahun pada 2006-2007, Tom berhasil mengembangkan usahanya menjadi belasan outlet.

Perkembangan yang cepat ini ternyata menjadi kejutan bagi Tom sehingga belum mampu membangun infrastruktur yang memadai untuk menopang ekspansi pasar. Tom kewalahan. Mungkin lelah. Satu demi satu outletnya syahid di medan tempur meninggalkan beban usaha dan tentunya hutang usaha yang melilit. Tom banting setir untuk penyelamatan.

Tom Burger menyingkir ke kampung halaman, mempelajari resep-resep burger sembari memperkuat basis finansial bisnisnya. Walhasil Tom berhasil membuat pabrik roti. Tahun 2010 pabrik rotinya sudah berjalan cepat. Karyawan bekerja nyaris tanpa henti 24 jam karena banyaknya pesanan. Dari kampung halaman, Tom menata ulang model bisnis Tom Burger. Hasilnya? Tom Burger saat ini tumbuh terus meroket setelah ditopang oleh kesiapan Manajemen Tom Burger yang sudah lebih berpengalaman. Ibarat Gatotkaca, Tom sudah melewati getirnya kawah candradimuka yang berhasil dia menangkan hingga kini lebih kuat dan dan siap.
Tom sedang memotivasi calon wirausahawan

Lebaran kemarin hamba berkesempatan bersua dengan beliau. Outlet sudah sangat banyak, hampir seratusan. Tom Burger kini mulai merajalela di seantero Sumatera. Dari salah satu outlet saja, bisa beromzet 1-2 juta per hari. Tom sudah banyak pula dimintai menjadi mentor bisnis UKM. Tak lupa, Tom membantu kawan-kawannya yang kesulitan, bukan dengan ikan tapi dengan pancing. Tom memberi mereka pinjaman outlet Tom Burger sehingga mereka mendapatkan lapangan usaha. Kerjasama dengan berbagai pihak terus dilakukan. Dari kampung halamannya, Tom akan menaklukkan pasar burger street food.
Tak salah kiranya bila saat ini Tom Burger bersemboyan, From Village to Indonesia…

#Apakah Desamu tak di Indonesia, Mr. Tom? #Penulis ini Usil pula..

#Bagi yang mau berhubungan langsung dengan Tom Burger termasuk bila hendak membuka peluang berbisnis dapat mengunjungi langsung FB Tom Burger https://www.facebook.com/tom.burger.7169 *Promo

No comments:

Post a Comment