Friday, August 14, 2015

Reaktif Literalisme dalam wacana Islam Kontemporer

Ulil Abshar Abdalla menulis tentang Nabi Muhammad dan Intervensi Pasar di laman berikut http://islamlib.com/gagasan/nabi-muhammad-dan-intervensi-pasar/
Tulisan tersebut dikomentari Airlangga Pribadi melalui status facebooknya. Saya kemudian menerbitkan ulang status tersebut di blog ini dengan seizin beliau.

------

Reaktif Literalisme dalam wacana Islam Kontemporer

Oleh : Airlangga Pribadi

Salah satu yang merisaukan dari benturan Islam kontemporer di Indonesia adalah tendensi reaktif-literalisme yang berkembang baik dari kubu Islam formalis wahabi maupun kubu Islam liberal. Tendensi reaktif literalisme ini adalah kecenderungan untuk memperlihatkan supremasi identitas oleh masing-masing pihak dengan jalan sekedar mencari rujukan teks Qur'an dan Hadits secara snapshot yang digunakan untuk memberikan justifikasi dan aura keagamaan dari pilihan ideologis yang dianutnya.

Bentuk-bentuk politisasi argumen seperti ini hanya akan menjadikan perbincangan tentang kajian agama mundur kebelakang tanpa sebuah penelaahan akademik dan mendalam tentang intisari agama itu sendiri. Baik kalangan formalis (sebagian besar wahabi) maupun liberal Muslim melupakan bahwa untuk memahami pesan-pesan keagamaan dan relevansinya dengan kehidupan kontemporer, maka upaya intelektual untuk memahaminya secara seksama tidak dapat melupakan pembacaan secara intertekstualitas dan interkontesktualitas.

Yang saya maksud dengan intertekstualitas adalah bagaimana suatu ayat maupun hadits yang dirujuk berhubungan dengan teks-teks yang lainnya. Sementara interkontekstualitas adalah bagaimana teks yang dikutip berhubungan dengan kondisi sejarah yang dihadapi pada saat itu yang kemudian dihubungkan dengan kondisi material yang terjadi pada saat ini. Dalam tradisi akademik Critical Discourse Analysis pembacaan seperti ini yang disebut sebagai jalan menghubungkan micro-text dan macro-text.

Sebagai salah satu contoh adalah tulisan dari Kang Ulil Abshar Abdalla berikut ini yang menawarkan pembacaan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang pemimpin dan tokoh yang pro-market, hanya dengan mengutip sebuah hadits tentang penolakan beliau untuk mengintervensi harga barang-barang di pasar, yang artinya beliau menolak kebijakan pricing policy yang kemudian dengan cepat dihubungkan bahwa beliau pendukung gagasan pasar bebas.

Kelemahan dari argumentasi ini adalah:

Pertama, dari sudut pandang intertekstualitas, tulisan dibawah ini tidak menghubungkan hadits Nabi yang dikutip dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits lainnya maupun tafsir lainnya yang menegaskan hukum demand supply dalam era Nabi harus dibatasi oleh posisi uang sebagai alat transaksi, keseimbangan antara kepemilikan dan fungsi sosial serta privat dari kerja manusia maupun tanah, bumi dan kekayaan alam seisinya. Sehingga pembacaan terhadap hadits diatas harus dibaca dalam konteks pemberian keadilan dan hak yang sudah semestinya diterima oleh pedagang. Sementara itu pentingnya kepemilikan dan fungsi sosial selain privat dalam banyak ayat dan qur'an juga dapat dimaknai sebagai pentingnya menjaga maslahah mursalah (bonnum commune dan Public interest) sebagai prasyarat keadilan.Setelah membaca teks dalam khasanah Islam kemudian koneksikan dengan teks tentang gagasan free market saat ini. Bandingkanlah pembacaan intertekstualitas diatas dengan doktrin free market kontemporer yang bekerja hanya melalui logika eksploitasi dan komodifikasi segala hal? Betulkah dapat begitu saja kita klaim bahwa Rasulullah adalah seorang Marketer? benarkah Islam pro free-market?

Kedua, dari sudut pandang interkontekstualitas, yang tidak diantisipasi oleh tulisan dibawah ini adalah adanya perbedaan formasi ekonomi antara era Muhammad dengan era kapitalisme kontemporer. Pada era kapitalisme kontemporer, mata uang sudah menjadi bagian dari komoditi bukan lagi sekedar alat tukar komoditi. Pada era sekarang kapitalisme telah memasuki fase financial capitalism, dimana pertumbuhan dan akumulasi ekonomi tidak lagi digerakkan semata-mata oleh ekonomi produktif (sementara pemahaman pentingnya penekanan terhadap aktivitas produktif adalah bagian penting dari ajaran Muhammad) tapi oleh laju perdagangan uang dan image atas produksi yang dipertukarkan sebagai saham.

Dalam perbedaan konteks kondisi dan formasi sosial diatas, menjadi tidak mudah untuk melontarkan sebuah fatwa dan thesis dalam pembacaan snapshot atas sebuah teks. Sepertinya kita harus kembali duduk, membaca, meneliti dengan tekun untuk menuangkan sebuah gagasan. Apalagi ini gagasan agama.

Mohon maaf ini bukan status ofensif hanya ajakan untuk berdialog mendalam dan komunikatif tentang perkembangan wacana Islam di Indonesia dari saya yang pengetahuannya sungguh dangkal tentang Islam.


No comments:

Post a Comment