Wednesday, September 9, 2015

Pasar Ternak dan Obsesi Gulai Kapau

Suasana Pasar Ternak di lokasi baru Negeri Payobasung, Payakumbuh. (Sumber http://payakumbuhkota.go.id/2013/07/15/fasilitas-pasar-ternak-payakumbuh-ditingkatkan/)

Di kampung saya, Payakumbuh, tersedia pasar ternak. Setiap hari Minggu para ternak datang berbondong-bondong dengan sukacita berharap mendapat pemilik baru diiringi oleh pemiliknya yang akan mentransaksikannya.

Lokasi pasar ternak di Payakumbuh ini sudah berpindah beberapa kali. Dahulu berada di daerah Labuh Baru Koto Nan Gadang sebelum dipindahkan ke Balai Nan II Koto Nan IV. Tempat lamanya di Labuh Baru sudah diubah menjadi terminal Angkutan Pedesaan yang membawa penumpang dari Kota Payakumbuh ke segenap penjuru negeri di Luak Limapuluh Kota. Saking terkenalnya mantan pasar ternak di Labuh Baru ini sampai-sampai terminalnya masih disebut Terminal Pasa Kabau Lamo (Terminal Pasar Kerbau Lama).

Setelah pindah ke Koto Nan IV, pasar ternak yang baru ini tak lagi disebut Pasa Kabau, tapi lebih dikenal sebagai Pasa Taranak. Istilah Pasa Kabau sudah terlanjur jadi merek terminal Angkutan Pedesaan di atas.

Sejatinya tak semua ternak dijual di sini. Hanya sapi, kerbau, dan kambing. Sapi dan kerbau diikat dengan tali di bahagian dalam sedangkan kambing dan penjualnya berada di area luar. Ada tanah lapang di situ.

Teknik transaksi secara tradisional adalah dengan marosok. Katanya ini bertujuan agar harga pasar tetap stabil. Caranya dua lelaki dari pihak penjual dan pembeli bersalaman. Kedua tangan mereka ditutupi dengan kain sarung. Lalu mereka tawar-menawar dengan cara saling menyentuh di balik sarung itu dengan kode-kode sebagai simbol harga. Setelah sepakat, ternak pun berpindah tangan. Jangan tanya kodenya pada saya karena saya pasti geli dicolak-colek di balik sarung.


Penggunaan tradisi marosok tidak menjadi keharusan. Itu hanya berlaku bagi yang mau saja. Yang tak pandai boleh tawar-menawar seperti biasa.

Saya sering ke pasar ternak itu. Kadang berhonda, kadang bersepeda, kadang berjalan kaki. Tapi bukan ternak yang saya cari.

Bersamaan dengan jadwal pasar ternak, muncul pula pedagang-pedagang yang mengiringinya. Ada yang menjual tali kekang, ada yang menjual sabit, parang, cangkul, rumput, obat, dan tentu saja makanan.

Gulai Kapau adalah menu pengiring pasar ternak itu. Mereka bersengaja datang dari Bukittingi ke Payakumbuh hanya untuk berjualan di hari Minggu, hari pasar ternak. Menjelang Subuh ibu-ibu perkasa itu menjunjung panci-panci berisi aneka gulai menaiki bus jurusan Bukittinggi - Payakumbuh. Nanti Selepas Lohor dagangan mereka sudah habis dan mereka kembali ke Bukittinggi.

Gulai Kapau itulah tujuan saya ke sana.

Hampir tiap hari Minggu saya berkehendak kepada Mandeh untuk membeli Gulai Kapau itu. Rasanya enak, berjibik-jibik membuka selera. Tapi tak selalu kehendak itu dikabulkan Mandeh.

Payakumbuh pekan di hari Minggu. Untuk Tuan dan Puan yang belum paham, di Minangkabau kita masih menggunakan pasar berputar dimana tiap lokasi ada pekannya masing-masing. Misalnya di Payakumbuh pekannya hari Minggu, Hari Senin ada pekan lagi di tempat lain, Hari Selasa ada pula tempat lain yang sedang pekan. Setiap hari dalam seminggu ada tempat-tempat yang ketempatan pekan. Makanya di Sumbar akan ada negeri bernama Pakan Akad (Ahad), Pakan Sinayan (Senin), Pakan Salasa (Selasa), Pakan Raba'a (Rabu), Pakan Kamih (Kamis), Pakan Jumaik (Jum'at), dan Pakan Satu (Sabtu). Inilah asal mula kata 'sepekan' untuk merujuk 'seminggu' di zaman sekarang.

Kalau kita rajin datang dari pekan ke pekan setiap harinya maka akan kita temui pedagang yang itu ke itu saja. Ya, itu karena mereka jadi pedagang keliling dari pekan ke pekan. Tiap hari mereka berpindah. Orang Minang menyebutnya "Manggaleh Babelok"

Karena para pedagang berbelok inilah kehendak saya tak selalu mendapat persetujuan Mandeh. Pasalnya di Pasar Payakumbuh ada banyak pilihan lauk. Para pedagang babelok tumpah menawarkan lauk andalannya masing-masing. Saya ingat ada Pangek Situjuah dari Negeri Situjuah, Katupek Pitalah dari Negeri Pitalah Padang Panjang, dan Gulai Sumpu dari Negeri Sumpur di tepian Danau Singkarak. Nah terkadang Mandeh membeli Gulai Sumpu ini sehingga hari Minggu itu tak ada jatah Gulai Kapau.

Apabila kebetulan Mandeh menyetujui kehendak saya, alangkah senang hati ini rasanya. Berbekal uang 500 rupiah saya hela kereta angin menuju pasar ternak. Dengan uang segitu saya bisa dapat sebungkus lauk yang siap dimakan bersama di rumah. Lauk apa itu? Sayur. Ya, uang 500 rupiah hanya bisa untuk membeli seporsi sayur yang terdiri dari campuran cempedak, kacang panjang, dan sawi. Semua bersatu dalam kuah santan dari gulai kapau yang gurih. Tahukah Tuan dan Puan? Dengan hanya menu seperti itu saja saya bisa bertambuh sampai 3-5 kali karena nikmatnya Apatah lagi jika punya uang agak banyak, bisa menikmati gulai tunjang, tanbunsu, dendeng, ikan dan saudara-saudaranya.

Tolong jangan dibandingkan dengan nasi kapau di Senen, Jakarta Pusat itu. Yang di pasar ternak ini aseli, Tuan dan Puan. Tak bercampur dengan yang lain-lain. Paling-paling hanya bercampur dengan aroma keringat sapi, kerbau dan kambing yang tak pernah mau pakai deodoran itu.

Datanglah ke pasar ternak kampung kami. Nikmati sensasi gulai kapau diiringi lenguhan sapi, oekan kerbau dan embikan kambing.

Itu nikmat sekali, Tuan !!

1 comment:

  1. Great job. The content is very rich of cultural life there.

    ReplyDelete