Thursday, September 24, 2015

Telur

Sumber : Kinder.co.uk
Gara-gara telur, malam ini saya berdebat sengit dengan Morteza, anak saya yang berusia 4 tahun. Tak hanya saya, Ibu dan Neneknya turut terseret dalam perdebatan ini. Akibatnya Morteza memutuskan untuk menyingkir ke kamar neneknya.

Awalnya begini. Ketika mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, Morteza bercerita tentang rencananya.

"Ayah, besok abang mau pergi membeli telur. Telur besar. Ayah tahu nggak?"

"Telur angsa?"

"Bukan, ini telur yang kalau dibuka isinya ada mainan dan stikernya"

"Telur berisi mainan?" Kata saya mengernyitkan dahi "mana ada?"

"Ada." Kata Morteza.

Saya tersenyum. Memberi penjelasan dengan suara rendah berlagak bijak. Kira-kira seperti Pak RT dalam animasi Adit & Sopo Jarwo. "Nak. Kalau telur isinya bukan mainan. Tapi putih telur dan kuning telur."

"Ada, Ayah. Itu lho yang abang pernah beli..."

"Ndak mungkin ada." saya memotong.

"Ada !!" Kali ini suaranya keras. "Telur itu warnanya merah. Kalau dibuka di dalamnya ada mainan !!"

"Tidak mungkin. Telur itu ndak mungkin berisi mainan." Jawab saya.

"Ayah tidak percaya ya?" Matanya menatap saya tajam. Bibirnya bergetar seperti menahan emosi. Dia tak terima tidak dipercaya.

"Abang tanyakan ke Ibu ya?" Katanya dengan mata melotot. Mencari dukungan pembuktian pada Ibunya.

"Ibuuuu, ibu kita pernahkan beli telur yang isinya mainan? Itu lo yang warnanya merah?" Morteza bertanya sambil berteriak.

Ibunya menjawab. Tapi bersamaan dengan jawaban ibunya saya terus membantah agar suara ibunya tersamar, "Tak mungkin. Tak ada itu. Telur ya isinya seperti isi telur...."

"...Plup", tiba-tiba Morteza membekap mulut saya.

"Ayah diam saja, ayah tak percaya sama abang !" Tegasnya. "Abang marah ya sama Ayah. Besok Abang beli telur besaaaaar sekali. Trus Abang gelindingkan ke Ayah. Biar ayah kempes, masuk ke telur jadi mainan !!" Morteza kalau marah imajinasi makin iar.

"Nenek, ada kan telur isinya mainan?" Kali ini ia mencari dukungan ke neneknya.

"Oh iya, ada telur mainan yang dijual di *nd*mar*t itu." Kata neneknya pula.

"Oh, itu kan bukan telur." Kata saya terengah karena baru lepas dari bekapan bocah kecil itu.

"Iya telur. Telur mainan." Jawabnya.

"Memangnya telur mainan itu Telur?" Tanya saya.

"Iya, Ayah. Telur pura-pura. Bukan telur beneran." Jawab Morteza.

"Nah, telur pura-pura itu bukan telur kan?" Tanya saya lagi. "Kalau ada boneka mirip Morteza apakah boneka itu Morteza?" Tanya saya melanjutkan.

"Ya Morteza," jawabnya mulai ragu, "Morteza pura-pura, Ayah." lanjutnya.

"Iya, maksud Ayah, Morteza pura-pura itu Morteza atau bukan? Kayak gitu juga telur itu. Telur pura-pura atau telur mainan itu Telur atau bukan?" Morteza saya berondong dengan pertanyaan.

"Sudah he, pusing saya." Kali ini neneknya berkomentar.

"Aduh Ayah ini. Sudah saatnya tidur." Kata ibunya.

Saya ketawa. Tapi Morteza tak perlu menjawab. Dia diselamatkan oleh bel.

Malam ini Malam Jum'at. Ada bel tanda bobo'.

Hihi.

No comments:

Post a Comment