Tuesday, October 10, 2017

Tabot, Tabuik, Ta'ziyeh

Konon ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa di Bengkulu, ia membawa tentara dari India yang dipanggil Sepah. Saya tak tahu bahasa India tapi sepertinya "Sepah" dalam bahasa India dan Parsi bermakna pengawal atau penjaga. Kata ini masih dipakai misalnya oleh milisi Sepah-i Sehaba di Pakistan dan Sepah-i Pasdaran atau pasukan pengawal revolusi di Republik Islam Iran.

Di Sumatera para tentara India ini disebut orang Sepahi, Sepay atau Sepoy. Perubahan pengucapan ini rasanya masih masuk akal.

Menurut Budayawan Minang Alm HC. Israr, tradisi Tabuik di Pariaman ini dibawa oleh kaum Sepay dari India ke pesisir barat Sumatera. Sebagian besar dari mereka bermazhab Syiah meski tak dijelaskan mereka termasuk Syiah yang mana, apakah Imamiyah Itsna Asyariyah, Ismaili, Musta'li, Nizari ataukah yang mana. Yang jelas mereka tetap mengabadikan tradisi memperingati Syahadah Imam Husayn saat mereka sudah menetap di Sumatera.

Awalnya tradisi Tabuik ini tak hanya dilakukan di Pariaman dan Bengkulu saja. Dalam biografi HC. Israr disebutkan bahwa dahulunya tradisi ini juga dilaksanakan di Padang, Payakumbuh, Solok dan Maninjau. Belakangan hanya Pariaman dan Bengkulu saja yang masih mempertahankan tradisi ini.

Iseng punya iseng dengan googling kita dapat menemukan apakah ada tradisi yang paralel antara Pantai Barat Sumatera dengan budaya Perso-India dalam memperingati Syahadah Imam Husayn di hari Asyura.. Dan Yes, terlihat ada yang sama.

Gambar 1

Gambar 2

Di foto pertama yang berwarna hitam putih terlihat ada benda seperti tabut yang diarak dan hendak dibuang ke air. Sebagian dari benda itu tampak sudah masuk ke dalam air. Foto ini adalah ilustrasi prosesi Asyura di kawasan Teluk Benggala pada abad ke 19. Mereka menyebutnya sebagai prosesi Ta'ziyeh. Awalnya hanya Muslim Syiah yang terlibat namun kemudian prosesi ini diikuti pula oleh Muslim Sunni dan bahkan umat Hindu.


Foto kedua adalah prosesi Tabuik di senja hari di Pantai Gondoriah Pariaman. Seperti gambar pertama posisi tabuik sudah ada di pinggir pantai dan siap dibuang ke laut oleh arak-arakan manusia.

Gambar 3

Gambar 4

Gambar 5

Gambar ketiga adalah prosesi Ta'ziyeh di India sekitar abad ke 18. Kalau dilihat sepintas, ada kemiripan dengan gambar ke 4 yang merupakan prosesi tabot di Bengkulu. Kemiripan yang sama juga terdapat pada gambar ke 5 yang merupakan tradisi Ta'ziyeh di Barabanki India.

Kelima prosesi yang terlihat di gambar mempunyai tujuan akhir yang sama yakni mengenang Syahadah Imam Husayn dan pada akhirnya Tabuik/Tabot yang diusung dibuang ke laut.


Tuesday, September 29, 2015

Kak Asma Nadia Yang Pemberani

Sumber : Republika
Saya tidak punya perkenalan langsung dengan Kak Asma Nadia. Maklum, kita jauh secara geografi maupun secara aktifitas. Pertama kali mendengar nama Kak Asma ini saat ada lomba penulisan cerita pendek di majalah Annida. Saat ini Kak Asma menjadi pemenang pertama, orang lain menjadi pemenang kedua, ketiga, dan banyak juga yang tak menang. Kebetulan adik saya berlangganan majalah Annida dan saya langganan meminjamnya.

Setelah pindah ke Jakarta, pernah sekali saya berjumpa Kak Asma. Saat itu ada talkshow penulis cilik di TB Gramedia Depok. Kak Asma menjadi moderator sedangkan saya menjadi penonton. Pembicaranya adalah beberapa penulis cilik yang saya ingat itu ada Faiz, Adam dan seorang lagi perempuan yang saya lupa namanya. Pendamping anak-anak itu adalah Kak Helvi Tiana Rosa dan anak- anak itu adalah putra-putri Kak Asma dan Kak Helvi. Lho.. ??

Di forum itu saya tak bicara. Hanya berdiri saja mendengarkan para penulis cilik mempresentasikan pengalaman menulis mereka. Maklum saya pemalu dan peminder. Anak-anak itu pintar menulis sementara saya yang sudah beruban sedikit-sedikit ini tak pandai-pandai juga mengolah keyboard. Sambil mengobati rasa malu saya menikmati kelucuan dan kepolosan anak-anak itu.



Thursday, September 24, 2015

Telur

Sumber : Kinder.co.uk
Gara-gara telur, malam ini saya berdebat sengit dengan Morteza, anak saya yang berusia 4 tahun. Tak hanya saya, Ibu dan Neneknya turut terseret dalam perdebatan ini. Akibatnya Morteza memutuskan untuk menyingkir ke kamar neneknya.

Awalnya begini. Ketika mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, Morteza bercerita tentang rencananya.

"Ayah, besok abang mau pergi membeli telur. Telur besar. Ayah tahu nggak?"

"Telur angsa?"

"Bukan, ini telur yang kalau dibuka isinya ada mainan dan stikernya"

"Telur berisi mainan?" Kata saya mengernyitkan dahi "mana ada?"

"Ada." Kata Morteza.


Monday, September 14, 2015

Perbandingan Apple to Apple

Di Internet ada yang memperdebatkan manakah yang lebih hebat antara Raja Ottoman Selim II ataukah Pangeran Mustafa? Perdebatan begitu hangat. Apalagi Selim II punya catatan buruk dan dianggap lemah. Sementara Mustafa adalah pangeran yang populer dan mempesona di kalangan rakyat jelata dan Janisari.

Sejatinya Pangeran Mustafa adalah putra tertua Raja Sulaiman I dari Ottoman (1520-1566 M). Raja kesepuluh ini dianggap sebagai sebagai yang tersukses di antara seluruh raja-raja Ottoman sekaligus yang terlama berkuasa. Pangeran Mustafa dilahirkan pada saat Sulaiman masih seorang Pangeran dari Mahidevran, istri pertamanya. Setelah diangkat menjadi Raja, Sulaiman menikahi budak dari Crimea bernama Hurrem yang melahirkan Pangeran Selim, Bayazid dan Cihangir.

Sebagian besar rakyat Ottoman menduga bahwa Mustafa akan menjadi pewaris tahta Ottoman karena ia putra tertua dan dianggap mempunyai kompetensi untuk itu. Selain itu sosok Mustafa juga popular di kalangan tentara Janisari dan rakyat jelata. Meskipun sebenarnya Ottoman tidak mempunyai sistem suksesi yang jelas. Biasanya apabila seorang Raja mangkat, para pangeran akan bersaing dan saling membunuh untuk dapat menduduki tahta. Kebiasaan ini berlanjut hingga zaman Raja Ahmed I (1603-1617) yang menyisakan satu adiknya tetap diizinkan hidup karena dianggap terlalu muda. Setelah periode Ahmed I, saudara-saudara Raja tidak lagi dibunuh tapi ditempatkan di satu tempat khusus semacam penjara mewah (Kafes) yang tidak memberi ruang mereka untuk melakukan oposisi pada Raja. Sistem suksesi diubah menjadi agnatic seniority.


Saturday, September 12, 2015

Menunggangi Musibah

Sumber : Kompas.com
Singkat saja, ada baiknya kita kembali ke dalam diri kita untuk menanyakan dimana nurani kita ketika ada musibah.

Peristiwa jatuhnya crane yang menimpa jamaah haji di Mekkah adalah sebuah musibah yang membawa korban. Tentu sebagai sebuah musibah yang terjadi dalam proses konstruksi ia harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana proses konstruksinya -yang tentunya sudah terukur- dapat selalai itu.

Selanjutnya, bagaimana peristiwa ini ditanggapi sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan penanggap. Ada yang membuat kesan bahwa kejadian ini berhubungan dengan kedatangan Jokowi. Ada pula yang menjadikan kasus ini sebagai simbol kelemahan pemerintah Saudi.

Tak dapat dipungkiri bahwa tak semua orang menyukai Jokowi dengan berbagai latar dan alasan. Kejadian ini dapat ditunggangi untuk menunjukkan betapa sialnya Jokowi. Dan sesungguhnya orang ini lebih peduli pada sialnya Jokowi daripada dukacita para korban.