Tuesday, September 29, 2015

Kak Asma Nadia Yang Pemberani

Sumber : Republika
Saya tidak punya perkenalan langsung dengan Kak Asma Nadia. Maklum, kita jauh secara geografi maupun secara aktifitas. Pertama kali mendengar nama Kak Asma ini saat ada lomba penulisan cerita pendek di majalah Annida. Saat ini Kak Asma menjadi pemenang pertama, orang lain menjadi pemenang kedua, ketiga, dan banyak juga yang tak menang. Kebetulan adik saya berlangganan majalah Annida dan saya langganan meminjamnya.

Setelah pindah ke Jakarta, pernah sekali saya berjumpa Kak Asma. Saat itu ada talkshow penulis cilik di TB Gramedia Depok. Kak Asma menjadi moderator sedangkan saya menjadi penonton. Pembicaranya adalah beberapa penulis cilik yang saya ingat itu ada Faiz, Adam dan seorang lagi perempuan yang saya lupa namanya. Pendamping anak-anak itu adalah Kak Helvi Tiana Rosa dan anak- anak itu adalah putra-putri Kak Asma dan Kak Helvi. Lho.. ??

Di forum itu saya tak bicara. Hanya berdiri saja mendengarkan para penulis cilik mempresentasikan pengalaman menulis mereka. Maklum saya pemalu dan peminder. Anak-anak itu pintar menulis sementara saya yang sudah beruban sedikit-sedikit ini tak pandai-pandai juga mengolah keyboard. Sambil mengobati rasa malu saya menikmati kelucuan dan kepolosan anak-anak itu.



Thursday, September 24, 2015

Telur

Sumber : Kinder.co.uk
Gara-gara telur, malam ini saya berdebat sengit dengan Morteza, anak saya yang berusia 4 tahun. Tak hanya saya, Ibu dan Neneknya turut terseret dalam perdebatan ini. Akibatnya Morteza memutuskan untuk menyingkir ke kamar neneknya.

Awalnya begini. Ketika mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, Morteza bercerita tentang rencananya.

"Ayah, besok abang mau pergi membeli telur. Telur besar. Ayah tahu nggak?"

"Telur angsa?"

"Bukan, ini telur yang kalau dibuka isinya ada mainan dan stikernya"

"Telur berisi mainan?" Kata saya mengernyitkan dahi "mana ada?"

"Ada." Kata Morteza.


Monday, September 14, 2015

Perbandingan Apple to Apple

Di Internet ada yang memperdebatkan manakah yang lebih hebat antara Raja Ottoman Selim II ataukah Pangeran Mustafa? Perdebatan begitu hangat. Apalagi Selim II punya catatan buruk dan dianggap lemah. Sementara Mustafa adalah pangeran yang populer dan mempesona di kalangan rakyat jelata dan Janisari.

Sejatinya Pangeran Mustafa adalah putra tertua Raja Sulaiman I dari Ottoman (1520-1566 M). Raja kesepuluh ini dianggap sebagai sebagai yang tersukses di antara seluruh raja-raja Ottoman sekaligus yang terlama berkuasa. Pangeran Mustafa dilahirkan pada saat Sulaiman masih seorang Pangeran dari Mahidevran, istri pertamanya. Setelah diangkat menjadi Raja, Sulaiman menikahi budak dari Crimea bernama Hurrem yang melahirkan Pangeran Selim, Bayazid dan Cihangir.

Sebagian besar rakyat Ottoman menduga bahwa Mustafa akan menjadi pewaris tahta Ottoman karena ia putra tertua dan dianggap mempunyai kompetensi untuk itu. Selain itu sosok Mustafa juga popular di kalangan tentara Janisari dan rakyat jelata. Meskipun sebenarnya Ottoman tidak mempunyai sistem suksesi yang jelas. Biasanya apabila seorang Raja mangkat, para pangeran akan bersaing dan saling membunuh untuk dapat menduduki tahta. Kebiasaan ini berlanjut hingga zaman Raja Ahmed I (1603-1617) yang menyisakan satu adiknya tetap diizinkan hidup karena dianggap terlalu muda. Setelah periode Ahmed I, saudara-saudara Raja tidak lagi dibunuh tapi ditempatkan di satu tempat khusus semacam penjara mewah (Kafes) yang tidak memberi ruang mereka untuk melakukan oposisi pada Raja. Sistem suksesi diubah menjadi agnatic seniority.


Saturday, September 12, 2015

Menunggangi Musibah

Sumber : Kompas.com
Singkat saja, ada baiknya kita kembali ke dalam diri kita untuk menanyakan dimana nurani kita ketika ada musibah.

Peristiwa jatuhnya crane yang menimpa jamaah haji di Mekkah adalah sebuah musibah yang membawa korban. Tentu sebagai sebuah musibah yang terjadi dalam proses konstruksi ia harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana proses konstruksinya -yang tentunya sudah terukur- dapat selalai itu.

Selanjutnya, bagaimana peristiwa ini ditanggapi sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan penanggap. Ada yang membuat kesan bahwa kejadian ini berhubungan dengan kedatangan Jokowi. Ada pula yang menjadikan kasus ini sebagai simbol kelemahan pemerintah Saudi.

Tak dapat dipungkiri bahwa tak semua orang menyukai Jokowi dengan berbagai latar dan alasan. Kejadian ini dapat ditunggangi untuk menunjukkan betapa sialnya Jokowi. Dan sesungguhnya orang ini lebih peduli pada sialnya Jokowi daripada dukacita para korban.


Wednesday, September 9, 2015

Dialog - dialog dengan Morteza

Jalan-jalan
Ibu : Nak, kita jalan-jalan yuk !
Morteza : Kita bawa baju
Ibu : Iya
Morteza : Kenapa?
Ibu : Kita nginaplah agak semalam
Morteza : Emangnya rumah kita mau dikontrakin?
Ibu : ?8cf!!%

Kincir Angin
Morteza : Ayah, itu apa?
Ayah : Yang mana?
Morteza : Itu yang berputar-putar di atas itu kincir apa?
Ayah : Oh, itu kincir angin
Morteza : Itu baling-baling, bukan kincir angin !
Ayah : 8fjdj?j#k?

Minta Maaf
Morteza : Ayah, mau nonton
Ayah : Minta maaf dulu. Tadi nyubit ibu kan?
Morteza : Ibu, mau nonton
Ibu : Minta maaf dulu ke ayah, tadi ngomong keras keras kan?
Morteza : Ayah, Ibu, minta maaf ya (sambil menjulurkan tangan kanan ke ibu, tangan kiri ke ayah. Mau salaman)
Ayah : lho, minta maaf pakai tangan kanan dong
Morteza : Harusnya Allah memberikan tangan ini (menggerakkan tangan kanan) kanan dan tangan ini (menggerakkan tangan kiri) kanan juga
Ayah dan Ibu : Kenapa?
Morteza : Supaya minta maafnya bisa sekalian
Ayah dan Ibu : *alamak

Balon bukan kempes
Ayah : Morteza, coba lihat perut Ayah. Gimana? Bagus nggak ? (sambil menunjukkan perut yang semakin buncit)
Morteza : (Senyum) Bagus
Ayah : Morteza mau perutnya kayak gini juga?
Morteza : Nggak, abang maunya kayak perut abang aja. Kempes
Ibu : Hehe. Perut ayah kayak balon ya?
Morteza : Bukan, Balon itu meletus !
Ibu : Oo..
Morteza : Yang kempes itu Ban, bukan Balon !!
Ibu dan Ayah : &*%^&*%&*()&()