Monday, July 30, 2007

End of July

Di akhir bulan ini saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman-pengalaman sederhana yang saya alami. Mungkin terlalu sederhana bagi para pengunjung, namun bisa jadi sangat berarti bagi saya.

Pak AMRI dan Manusia Kecil
Dalam perjalanan dari Jakarta-Padang 27 Juli lalu, Pesawat yang saya tumpangi bergetar hebat. Kita agak cemas dan pucat. Dalam keadaan seperti itu saya berkenalan dengan penumpang di sebelah saya. Namanya Pak Amri, pedagang di Tanah Abang. Ia berkata,” Di Pesawat ini lah kita benar-benar merasakan kekuasaan Allah. Betapa kecil dan tak berdayanya kita dan betapa besar dan luasnya Alam Allah."

Nanak
Ada fenomena di dunia pemasaran yang disebut dengan cult branding. Kalau anda penggemar Dji Sam Soe, apa yang anda rasakan bila menikmatinya? Mungkin anda akan mengadakan ritual khusus sebelum menghisapnya seperti memukul-mukul. Menghisapnya menjadi kebanggaan tersendiri dan seolah menjadi bagian dari komunitas yang hebat.

Fenomena yang sama juga ada pada Motor Gede Harley Davidson. Pernah lihat penggemar MOGE yang berkonvoi dengan gagah? Itu karena telah terhipnotis oleh Brand Harley. Inilah Cult Branding.

Sabtu, 28 Juli, Ayah saya melaporkan kelaparannya dan minta saya membelikan nasi bungkus di Rumah Makan Nanak. Nama itu cukup akrab di telinga saya walaupun saya tidak tahu persis dimana tempatnya di Payakumbuh. Ayah menjelaskan petanya dan saya meluncur dengan motor ke sana.

Sesampai di lokasi, saya kebingungan karena tidak menemukan papan merk Nanak. Saya hanya menemukan sebuah rumah makan yang kecil, tidak ditata, bahkan sangat tidak menarik. Namun yang aneh, rumah makan itu sanat ramai dengan para pengunjung yang makan di sana dan sekaligus dipenuhi antrian pembeli yang minta dibungkuskan. Aneh.

Saya bertanya kepada salah satu pengunjung, “Pak, Rumah Makan Nanak di mana?” Ia menunjuk pada rumah makan itu. Saya masuk dan ternyata, tidak ada antrian di sana. Yang ada adalah kerumunan pembeli yang berlomba sorak. Artinya, siapa yang teriakannya paling keras akan dilayani terlebih dahulu. Jadilah saya, yang berasumsi ada antrian, tergiling oleh tamu yang baru datang kemudian. Cepat saya menyesuaikan diri dan mulai bersorak pula.

Saya merasa ini mungkin bagian dari cult branding. Apa sih yang khas di sana? Saya melihat kalau bicara kelezatan, biasa saja. Layanan pun tidak istimewa. Papan nama dan promosi pun tak ada. Namun ada yang menyatukan meraka di sana. Nama NANAK.


No comments:

Post a Comment