Monday, December 15, 2008

Kajang


"Songiang talingo den!"
Itulah teriakan "nakhoda" Kajang

Kalau anda ingin menyaksikan kapal laut naik ke darat, maka di Nagari Gunung Malintang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat lah tempatnya. Setiap tahun sehabis Idul Fitri di Bulan Syawal, festival Kajang digelar. Penduduk lokal menyebutnya Bakajang (Ber-kajang)

Unik, karena pesta sebesar ini tidak mendapat liputan yang layak. Menggemaskan karena pemda setempat sepertinya tidak berusaha memperkenalkan perhelatan budaya yang menghabiskan puluhan juta rupiah hanya untuk kajang, belum lagi untuk prosesi lainnya. Setiap kali saya menyaksikan pesta ini, belum pernah saya melihat Bupati atau wakilnya memberikan apresiasi yang cukup. Kecuali pada tahun 2000-2004, dimana saat ini, Al Hajj Drs. Syamsul Udaya, putra daerah setempat berkesempatan menjadi Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota.

Festival Bakajang adalah perayaan tahunan nagari Gunung Malintang. Nagari ini dilalui oleh sebuah sungai bernama Batang Maek atau juga dikenal sebagai Sungai Kampar Kanan. Seluruh kegiatan masyarakat di daerah ini berawal dan bermuara di sungai ini. Sungai ini tempat mereka mandi di pagi hari, mencari nafkah di siang hari dengan mencari ikan, mengambil pasir atau batu, lalu menjadi tempat mandi di sore hari. Selain untuk pembersihan, di masa lalu bahkan sampai 10 tahun yang lalu, air minum pun diambil dari sungai ini. Pemukiman penduduk tersusun spoanjang aliran sungai, mengikuti pola sungai. Inilah sebuah peradaban sungai. Batang Maek adalah Nil-nya Gunung Malintang.

Nagari Gunung Malintang adalah Republik Kecil seperti lazimnya nagari di Minangkabau. Terdapat empat suku di sana, Piliang, Melayu, Domo dan Pagar Cancang. Setiap suku dipimpin oleh Penghulunya masing-masing. Menjadi kesepakatan dalam nagari, bahwa kehidupan mereka seperti -lagi-lagi dengan metafora peradaban sungai- "Suku Piliang seperti penarik galah sampan, suku Melayu mengarahkan kemudi, sedangkan suku Domo dan Pagar Cancang menjadi penyauk air agar sampan tidak karam"

Struktur Masyarakat Gunung Malintang menggunakan Langgam Adat Koto Piliang yang menekankan pada struktur masyarakat yang berjenjang. Dikatakan dalam langgam ini bahwa otoritas itu "menitik dari atas" dan berlawanan dengan langgam Bodi Chaniago yang menekankan "membersit dari bumi". Struktur ini diturunkan pada struktur nagari yang menyebutkan bahwa "rencana di tangan Datuk Sati (Penghulu suku Melayu), namun keputusan di tangan Datuk Bandaro (Penghulu suku Piliang). Dalam Struktur agama pun, kecenderungan Langgam Koto Piliang juga terlihat jelas. Ada empat institusi keagamaan di sana, Khatib yang selalu harus dipegang oleh Suku Domo, Imam yang harus dipegang oleh Suku Melayu, Bilal yang harus dijabat oleh Suku Pagar Cancang, dan Siak yang harus dijabat oleh Suku Piliang.

Secara teritorial, Nagari ini terbagi atas lima jorong (pada rezim Soeharto, jorong dipaksa menjadi desa sehingga pecahlah kesatuan adat) yakni Bancah Lumpur, Balik Bukit, Batu Balah, Koto Lamo dan Koto Mesjid. Pusat Nagari ini adalah jorong Batu Balah.

Perayaan Bakajang ditandai dengan perayaan lima hari yang berlangsung secara bergilir dari satu jorong ke jorong yang lain. Substansi perayaan ini adalah mengunjungi Penghulu yang bekedudukan di Istana masing-masing. Istana Dt. Sati berada di Batu Balah, sedangkan datuk-datuk yang lain dari suku yang lain masing-masing juga berkedudukan di jorong masing-masing. Istana yang dimaksud tidaklah sama dengan keraton. Istana itu tak lebih dari sebuah Mushalla kecil di pinggir sungai. Menjadi keharusan di Minangkabau, setiap suku mesti mempunyai Mushalla (Surau). Ke Mushala itulah kunjungan dilakukan secara bergilir selama lima hari dari satu jorong ke jorong lainnya.

Untuk mengunjungi Penghulu atau Ninik Mamak, para anak kemenakan atau warga secara sukarela membuat sebuah kapal. Masing-masing jorong membuat satu kapal yang disebut kajang sehingga berjumlah lima buah sesuai jumlah jorong tersebut. Kapal ini adalah sebuah sampan yang dihiasi dengan bagunan di bagian atasnya sehingga terlihat sangat indah. Kadang, sampan juga ditambah dengan meriam dari bambu. Petugas bagian depan, yang mendayung kajang sering jadi terkaget-kaget apabila meriam bambu meledak tepat di telinganya.

Demikianlah, selama lima hari itu, kajang berseliweran dengan kebesarannya dari satu jorong ke jorong yang lain di sepanjang Batang Maek. Di dalam kajang tersedia ruang untuk penghulu, hiburan dari talempong dan hiasan lainnya. Untuk mendorong kreatifitas, di akhir acara akan diumumkan kajang terindah. Selain itu, di sela-sela acara inti yang dipenuhi oleh pidato adat dan prosesi adat, diadakan berbagai lomba yang berkaitan dengan air seperti selaju sampan, renang, dll.

Acara ini adalah acara terbesar di nagari ini. Seluruh warga akan tumpah ruah, aktifitas lain terhenti, bisnis dadakan seperti penjaja makanan muncul menyasar anak-anak yang lagi banyak uang sehabis lebaran.

Datang sesekali ke sana.. rasakan nikmatnya Nagari Gunung Malintang, Luak Lima Puluh Koto, Ranah Minang.


7 comments:

  1. Alangkah baiknya saudara Helfi yang menceritakan dengan detil seluruh prosesi tersebut. Lengkap dengan fotofotonya kalau bisa. Sekarangkan jamannya citizen journalism, jangan terlalu berharap pada pemerintah. Let's make our society more solid with our hands. Setidaknya, bagi saya yang tidak mengenal budaya minang jadi tahu apa itu peristiwa Kajang.

    ReplyDelete
  2. yudi helfi...
    blh add ym dan fb saya(yobistpt@yahoo.co.id). karena saya sendiri adalah org gunung melintang tepatnya di jorong batu balah....

    ReplyDelete
  3. sama dengan yobby di atas saya juga orang gunung malintang, desa batu balah( rumah kami pun berdekatan )
    dan saya juga akan bersedia untuk mmbantu untuk mmbrikan beberapa informasi yang di butuhkan...
    add di FB (nanda_loodyporsya87@hotmail.com)

    ReplyDelete
  4. Orang Batu Balah? Rumahnya dimana? Siapa Ibunya? Neneknya? Sukunya?

    ReplyDelete
  5. iya,,jorong batu balah,rumah saya setelah jmbatan. dekat dengan rumah yobby...

    nama nenek saya kaminin dan kakek lahamin.
    sedangkan ibu saya bernama karnelis
    suku melayu
    memangnya kenapa??

    ReplyDelete
  6. Bung, namanya siapa?
    Anda kemenakan Bapak Kemal yang di Sijunjung?

    ReplyDelete
  7. Nyimak.....
    Saya jga orang batu balah....
    Heeeeee...

    ReplyDelete