Monday, October 27, 2008

Is Indonesia a Trusted Brand ?


Sabtu lalu, saya ke Gelora Bung Karno mengantar isteri. Begitu masuk melalui gerbang parkir, petugas langsung meminta uang masuk Rp. 1000 tanpa memberikan tiket parkir.Saya konfirmasi, jawabannya sederhana, "Macet, mas. Jadi gak pakai tiket." Benar-benar aneh karena biasanya biaya parkir dibayar pas keluar sesuai dengan lamanya motor nginap di lokasi parkir.

Motor saya masuk melaju menuju salah satu pintu di Parkir Timur. Begitu hendak masuk, ternyata gerbangnya dikunci. Aneh, padahal di pagi itu ada acara yang diselenggarakan oleh salah satu Departemen di negeri ini. Seharusnya pagarnya dibuka, agar orang bisa masuk. Anehnya lagi, petugas mempersilakan saya masuk mengendarai motor melalui trotoar pejalan kaki. Kebetulan, akses pejalan kaki tidak ditutup.

Sesampai di dalam, ternyata ada area parkir motor, di depan pintu VI. Ada dua petugas dengan seragam bertuliskan nama dan sebuah tulisan "BEBAS PUNGUTAN". Wajarlah, saya kan udah bayar parkir di depan:)

Motor saya parkir, lalu saya ngantar isteri ke dalam. Sesampai di luar ketika hendak pulang, salah satu petugas yang berseragam "BEBAS PUNGUTAN" mendekati saya, meminta STNK. Wajar, untuk meyakinkan bahwa saya pencuri motor. Yang tdak wajar adalah, ia meminta uang parkir kepada saya Rp. 2000. Saya komentari, "Lah ini kan bebas pungutan, mas. Lihat baju sampean." Dia menjawab. "Kalau bebas pungutan, kita makan apa mas?" Saya menukas, "Lha, kalau begitu apa artinya tulisan di baju anda?" Jawabannya sederhana, "Ini kan hanya baju, mas. Dan tulisan ini ya cuma sekedar tulisan." Saya balik mengomentari, "Mas kan petugas di sini, ketika ditugaskan dengan baju seperti ini, artinya yang menugaskan sudah membayar anda."

Nggak tahu mesti menjawab apa, petugas itu ngeloyor pergi. Saya pikir masalahnya selesai. Nggak tahunya, dia manggil kawannya yang satu lagi. Sekarang giliran temannya yang minta uang parkir. Karena tidak mau ribut-ribut, saya kasih uang Rp. 1000, eh dia minta tambah Rp 1000 lagi. Saya kasih aja namun saya minta bukti parkir. Dia manggil temannya yang tadi berdebat dengan saya yang sudah menjauh. Dia hanya menyahut, "STNK nya udah dibalikin." "Bukan STNK, tapi bukti parkir" Dia hanya ngeloyor, dan saya pun pergi.

Saya betuk-betul heran. Sulit betul kita bisa percaya dengan apa yang tertulis di Indonesia. Makanya, orang asing, misalnya kawan saya dari Malaysia, bingung setiap kali ke Indonesia. Apabila mereka mengikuti semua tanda, tulisan, petunjuk yang ada, selalu saja mereka akan kaget ketika melihat kenyataanya berbeda. Gelora Bung Karno adalah sebuah contoh. Betapa Gelanggang Olah Raga yang menjadi simbol negara, ternyata juga gak bisa kita percaya. Persis lapangan sepak bola di kampung-kampung. Apalagi jika melihat kekototan dan kesemrawutannya.

Pengalaman tentang betapa munafiknya Indonesia, khususnya pengelolaan negara, juga saya rasakan ketika menemani isteri saya mengurus SKCK di Polres Jakarta Selatan. Di pintu ruang pengurusan SKCK, ditempelkan pengumuman tentang persyaratan SKCK. Namun di pojok, di balik kaca hitam, yang hanya mungkin terbaca jika benar-benar dipelototi, ditempelkan pengumuman, "PEMBUATAN SKCK BEBAS BIAYA". Entah mengapa, pengumuman ini ditaruh di tempat yang sulit dilihat. Mengapa tidak ditempel di tempat yang sama dengan pengumuman persyratan SKCK yang mudah dilihat. Kenyataan di dalam, ternyata Isteri saya tetap dimintai uang. Katanya untuk uang sidik jari.

Lagi-lagi kebohongan saya temukan saat ditilang polisi. Sesuai ketentuan, jika ditilang, kita boleh membayar denda pada saat itu juga melalui Transfer ATM ke Rekening BRI, lalu bukti transfer tinggal ditunjukkan pada polisi yang nangkap, dan SIM dikembalikan. Namun polisinya malah mencoba menipu dengan menyatakan bahwa prosedur itu sudah tidak berlaku lagi dan memaksa saya ikut sidang.

Di persidangan, saya mengkonfirmasi kepada Bu hakim, apakah memang prosedur yang saya minta sudah tidak berlaku lagi. Jaksa lalu menjelaskan bahwa prosedur itu masih berlaku dan kita boleh menggunakan prosedur itu. Nah jelas kan? Polisi itu menipu.

Timbul pertanyaan di pikiran saya, jika Indonesia adalah sebuah brand, apa value yang bisa didapat dari brand itu?


2 comments:

  1. jd idealis di jaman kaya' gini emang susah. terkadang kita harus memaafkan diri sendiri atas
    "kemunafikan" kita. Yah, semoga aja kemunafikan itu gak meruyak ke hal2 prinsipil dlm hidup kita

    ReplyDelete
  2. Emang bos.
    kadang perlu ada pembenaran untuk ketidakkuatan kita :)

    ReplyDelete