Monday, February 9, 2009

Revolusi Islam Iran

Kamis minggu lalu, saya diundang via SMS oleh seorang sahabat untuk menghadiri peringatan 30 tahun Revolusi Islam Iran. Acara ini digelar di daerah Buncit Raya Jakarta. Dalam kesempatan ini hadir Duta Besar Iran untuk Indonesia berserta beberapa tokoh Iran. Yang istimewa dalam acara ini adalah kehadiran Hojjatul Islam Sayyid Yasir Musawi Khomeini, putra Hojjatul Islam Sayyid Ahmad Musawi Khomeini, putra Ayatullah Uzhma Sayyid Imam Rohullah Musawi Khomeini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.

Bangsa Iran merupakan suatu bangsa dengan sejarah sangat panjang dengan nama Persia. Ribuan tahun yang lalu Persia adalah salah satu adikuasa di dunia bersama dengan kekaisaran Romawi. Dua negara ini selalu bersaing untuk memperebutkan pengaruh baik secara militer mapupun politik. Dari segi militer, pertentangan dua negara besar ini terabadikan dalam Al-Qur'an surah Ar-Rum yang mengisahkan perebutan tapal batas yang selalu bergolak dan tidak pernah bisa ditetapkan secara pasti. Seperti persaingan di dunia modern, masing-masing negara menciptakan negara-negara boneka di perbatasan untuk mengamankan pusat kekuasaan. Bangsa Romawi menempatkan Bani Ghassan sebagai sekutu mereka sementara Persia menempatkan Bani Lakhmid.

Persaingan dua negara ini tdak hanya melulu persaingan politik. Secara budaya, terdapat perbedaan yang secara nyata juga menjadi sebab suatu suku kecil memilih bersekutu dengan yang mana. Bangsa Persia mewarisi ajaran Majusi Zoroaster yang menyembah Api. Sedangkan bangsa Romawi sejak masa Kaisar Constantine memeluk agama Nasrani. Oleh karena itu, kaum Muslimin di Mekkah memilih berpihak kepada Romawi karena sama-sama menganut ajaran samawi.

Pengaruh kedua poros budaya ini juga semakin terasa saat kekuasaan Islam semakin meluas. Raja Dinasti Umayyah pertama, Muawwiyah bin Abu Sufyan yang berkuasa dari Damaskus (bekas wilayah kekuasaan Romawi) lebih cenderung menggunakan pola yang mirip dengan Romawi. Sementara dinasti yang datang kemudian, Abbasiyah, cenderung untuk menggunakan model Persia. Raja kedua Abbasiyah, Abu Ja'far Al Manshur, bahkan memindahkan pusat kerajaannya ke kota Baghad yang baru didirikan di dekat Cresiphon, bekas Ibu Kota Persia.

Persia menjadi menarik karena daerah ini paling cepat ditaklukan oleh bala tentara Islam di bawah pimpinan Khalifah Umar bin Khattab r.a dan dengan cepat pula menjadi bagian dari Islam. Kedatangan agama baru ini langsung diterima masyarakat dan segera menggeser agama Majusi. Pada Zaman Abbasiyah, Dinasti Buwaih yang Persia, pernah menjadi penguasa Baghdad dan menjadikan Raja Abbasiyah hanya sebagai simbol saja.

Walaupun terlah ter-Islam-kan, bangsa Persia ternyata tak pernah bisa ter-Arab-kan. Lihatlah diantara negeri-negeri awal yang pernah ditaklukan, hanya Persia yang tetap menggunakan bahasa Persia. Palestina, Lebanon, Damaskus, Transyordan yang tadinya berbahasa Aramaik menjadi berbahasa Arab. Mesir yang berbahasa Qibthi, sekarang berbahasa Arab bahkan sampai ke Sudan, Libya, Tunisia dan Maghribi semuanya berbahasa Arab dan menamakan diri mereka dengan Republik Arab (Mis: Rep. Arab Mesir, Rep. Arab Sudan, Rep. Arab Libya, dll). Tapi tidak demikian dengan Persia. Sampai saat ini Iran yang merupakan kelanjutan Persia tetap menganggap diri mereka bukan Arab dan tidak menggunakan Bahasa Arab. Dalam pertemuan-pertemuan Liga Arab, Iran hanyalah peninjau sama dengan Indonesia.

Perlawanan Iran terhadap Arab terlihat dari mazhab yang mereka pakai. Bangsa Persia menerima Islam namun tidak menerima Islam Arab. Mereka menggunakan Mazhab yang berlawanan dengan penguasa Arab. Jika Penguasa Arab bermazhab Ahlus Sunnah, Persia menggunakah Mazhab Ahlulbait atau Syiah. Konsentrasi Syiah di Iran mulai meningkat tatkala Imam mereka yang kedelapan, Imam Ali Ar-Ridha As, dijebak oleh Raja Abdullah Al-Makmun dari Abbasiyah yang lalu meracuninya. enazah Imam Ridha dimakamkan di Masyhad Iran. Peningkatan konsentrasi kaum Syiah ini meningkat saat Dinasti Safawi berkuasa di Iran.

Pada tahun 1979, melalui sebuah revolusi, Iran mencengangkan dunia. Beberapa hari sebelum Revolusi, Dinas Intelejen Amerika (CIA) menganalisa bahwa posisi Shah Muhammad Reza Pahlevi (penguasa Iran, Antek Amerika saat itu) akan aman setidaknya dalam sepuluh tahun ke depan. Namun ternyata, selang beberapa hari kemudian, pembangkangan massal yang dipimpin oleh Khomeini dengan serta merta menumbangkannya. Inilah yang membuat para analis dan sosiolog terpaksa mengkaji ulang berbagai teori revolusi yang selama ini diyakini.

Revolusi Iran didukung oleh tiga variabel: doktrin, pemimpin, dan keterlibatan massa. Doktrin yang mereka gunakan adalah imamah, ghaibah dan syahadah. Tiga doktrin ini yang merupakan doktrin Islam Syiah direproduksi sedemikian rupa sehingga memunculkan sisi revolusioner Islam. Doktrin Imamah yang merupakan jantung IslamSyiah yang saat ini berubah menjadi doktrin Ghaibah semenjak menghilangnya Imam Muhammad bin Hasan atau yang dikenal sebagai Shahibul Ashri Wa Zaman Al Qaim Al Mahdi Almuntazhar, secara cerdas diformulasikan oleh Khomeini menjadi teori Vilayat-e-Faqih (Pemerintahan Faqih). Sementara doktrin Syahadah yang dialami oleh semua Imam Syiah (semua Imam Syiah sejak Ali sampai Hasan Askari mati terbunuh) terutama Imam Husain direproduksi dengan cerdas oleh Dr. Ali Syariati. Syariati dengan cerdas pula mendikotomikan Syiah menjadi Syiah Abbas atau Syiah Safavid dengan Syiah Ali sehingga memunculkan semangat revolusi kaum tertindas.

Variable kedua yakni kepemimpinan disimbolkan dengan lelaki tua berjenggot panjang bernama Ruhullah Musawi Khomeini. Sosok ini telah mencapai derajat Mujtahid tertinggi sehingga bergelar Ayatullah Uzhma. Di dunia Syiah dikenal pemeringkatan Mujtahid sesuai dengan kapasitasnya. Sementara, variable ketiga yakni massa rakyat diperoleh dari jaringan para Ayatullah dan Muqallidnya yang lepas dari kendali Shah Iran.

Dalam perayaan 30 tahun Revolusi, para tokoh Iran yang hadir seperti Duta Besar Iran untuk Indonesia Mr. Belrooz Kamalvandi, dan Dr. Shamsiyar menekankan bahwa Revolusi Iran tidak sama dengan berbagai revolusi yang pernah ada semisal Revolusi Perancis, Revolusi Amerika atau Revolusi Bolsevhich di Rusia. Revolusi Iran adalah Revolusi Islam yang berdasarkan pada Iman. Mereka menegaskan bahwa memang Iran telah mencapai banyak kemajuan dibandingkan sebelum revolusi seperti keberhasilan penciptaan rudal, pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai dan terakhir kemampuan menciptakan satelit dan meluncurkannya dengan roket buatan sendiri, namun yang paling menggembirakan justru bahwa tujuan Revolusi untuk meningkatkan Iman semakin terlihat hasilnya. Iman Masyarakat Iran semakin meningkat sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.

Sementara Sayyid Yasir Khomeini tidak bicara banyak tentang politik. Beliau hanya menjelaskan beberapa kisah teladan dari Imam Ali khususnya saat peristiwa Khandaq dan saat Tahkim dengan Muawwiyah.


No comments:

Post a Comment