Thursday, June 23, 2011

Ail Minelar

photo : Shahril.org
Nasib telah menentukan. Ternyata air di rumah kontrakan saya tidak bisa diminum. Pernah beberapa kali coba dimasak, rasanya seperti besi. Kelat dan perih di kerongkongan. Jika diminum ketika haus, hanya menambah rasa haus. Solusinya, perlu mencari air dari luar rumah untuk kebutuhan minum dan memasak.

Dahulu ketika tinggal di Napar, Payakumbuh, air sumur di rumah juga tak layak minum. Warnanya keruh kecoklatan mirip teh susu, persis seperti air di sawah yang berjarak dua setengah meter daripadanya. Untungnya, di tempat tak jauh dari rumah -mungkin 100 meter- ada sumur milik warga yang airnya jernih tak pernah kering. Orangnya baik mempersilakan kami mengambil air di sumur itu saban hari. Saya pergi ke sana dengan nenek untuk membantunya membawa air dan tak jarang malah menyusahkannya karena saya hampir terjatuh saat menimba.

Dunia modern menyediakan satu fasilitas yang serba mudah. Orang tak perlu lagi memasak air. Ada dispenser yang bisa diset sekaligus menanak air. Asal ada listrik, air dingin disulap menjadi air hangat. Kompor zaman sekarang tak lagi sesibuk tungku di zaman dulu.

Jadi kesimpulannya kami harus bergantung pada dispenser dan galon terbalik yang nangkring di atasnya. Tinggal dipikirkan bagaimana cara mengisinya.

Di awal-awal menikah, saya selalu bolak-balik ke tempat penjualan air mineral apabila galon sudah kosong. Lama-lama cara ini sudah tidak efektif apalagi jika sedang keluar kota. Karena di rumah tak ada pembantu, tak mungkin juga mengharapkan istri melakukan hal yang sama dengan apa yang saya telah perbuat. Untunglah ada fasilitas antar jemput. Tinggal angkat telepon, pengantar air pun datang.

"Hallo, ini dengan Yudi. Ini penjual AIL MINELAR ?" Kebiasaan cadel kalau sedang riweuh memergoki saya.

"Betul, Pak"
"Bisa pesen air dua galon untuk rumah saya di Jalan Mandar No, 21 rumah paling ujung?"
"Bisa, Pak. Segera diantar" Tak lama kemudian orangnya datang membawa dua galon air mineral. Setelah membayar harga plus tipsnya, galon sudah berpindah dan saya mendapat hadiah senyum.

Tiga hari kemudian, adegan yang sama terulang lagi.

"Hallo, dengan AIL MINELAR ?"
"Betul, Pak"
"Mas, pesen dua galon ke Jalan Mandar No. 21 rumah paling ujung"
"Ya, Pak." Dan dua galon pun datang ke rumah.

Lama-lama saya sepertinya ditandai. Kecadelan karena kegugupan ternyata malah bermanfaat sebagai identitas. Saya tak lagi memperbaiki kesalahan itu. Adegan akhirnya berubah.

"Hallo, dengan AIL MINELAR ?" Saya menelepon.
"Oh, dengan Pak Yudi ya? Dua galon di Jalan Mandar No. 21 rumah paling ujung?" Penjualnya langsung menebak.
"Iya, Mas" Jawab saya pendek. Urusan pun selesai.

Suatu waktu di saat saya dengan riweuh pula, saya minta Nazila -istri saya- menelepon penjual air mineral sembari mengajarkan sapaan yang mudah dikenali penjual.

"Hallo, AIL MINELAR ?"

Hehehe.. Sekarang giliran Nazila yang beraksi cadel.


Depok, 23 Juni 2011
--- Masih berstatus siaga satu ---

No comments:

Post a Comment