Tuesday, September 29, 2015

Kak Asma Nadia Yang Pemberani

Sumber : Republika
Saya tidak punya perkenalan langsung dengan Kak Asma Nadia. Maklum, kita jauh secara geografi maupun secara aktifitas. Pertama kali mendengar nama Kak Asma ini saat ada lomba penulisan cerita pendek di majalah Annida. Saat ini Kak Asma menjadi pemenang pertama, orang lain menjadi pemenang kedua, ketiga, dan banyak juga yang tak menang. Kebetulan adik saya berlangganan majalah Annida dan saya langganan meminjamnya.

Setelah pindah ke Jakarta, pernah sekali saya berjumpa Kak Asma. Saat itu ada talkshow penulis cilik di TB Gramedia Depok. Kak Asma menjadi moderator sedangkan saya menjadi penonton. Pembicaranya adalah beberapa penulis cilik yang saya ingat itu ada Faiz, Adam dan seorang lagi perempuan yang saya lupa namanya. Pendamping anak-anak itu adalah Kak Helvi Tiana Rosa dan anak- anak itu adalah putra-putri Kak Asma dan Kak Helvi. Lho.. ??

Di forum itu saya tak bicara. Hanya berdiri saja mendengarkan para penulis cilik mempresentasikan pengalaman menulis mereka. Maklum saya pemalu dan peminder. Anak-anak itu pintar menulis sementara saya yang sudah beruban sedikit-sedikit ini tak pandai-pandai juga mengolah keyboard. Sambil mengobati rasa malu saya menikmati kelucuan dan kepolosan anak-anak itu.

Sesungguhnya yang saya sasar di forum itu adalah Kak Helvi. Kebetulan saya berencana mengundangnya ke sebuah workshop menulis. Kak Helvi memberikan nomor HPnya. Dari sana saya kemudian diarahkan ke Asma Nadia Publishing House (ANPH) di daerah Depok juga. Saya ingin menjadikan ANPH ini sebagai salah satu model referensi untuk diterapkan pada komunitas penulis yang hendak saya kembangkan. Namun di sana saya gagal berjumpa Kak Helvi dan juga Kak Asma.

*** 

Hari-hari ini terbaca berita bahwa Kak Asma dibully karena sebuah tulisan yang berisi pengalamannya saat berziarah ke Mekkah. Di dalam tulisan itu Kak Asma menyampaikan kritik terhadap pelayanan pada peziarah terutama pasca musibah crane dan Mina. Tak lupa Kak Asma menceritakan pengalaman pribadinya ketika menghadapi kejadian yang hampir mirip dengan kejadian yang dibahasnya itu. Penasaran, saya pakai twitter untuk mengamati mention-mention kepada beliau. Ternyata memang banyak twit diarahkan pada beliau tersebab tulisan itu.

Di antara tuduhan yang dialamatkan kepada Kak Asma adalah bahwa beliau penganut Syiah. Tuduhan ini muncul karena tulisan Kak Asma itu dianggap mempunyai standing position yang sama dengan media-media Iran.

Memang belakangan Kak Asma sudah bergerak lebih luas dalam dunia kepenulisan. Jangkauan pergaulannya tak lagi terbatas di dunia penulis yang tercitrakan terafiliasi dengan PKS tapi  telah meluas ke kalangan-kalangan lainnya. Karya-karya Kak Asma tak lagi terbatas di dunia tulis tapi juga telah merambah ke dunia merchandise dan film. Di dunia film inilah Kak Asma bekerja sama dengan Ustadz Haidar Bagir yang juga diduga Syiah.

Sebenarnya tak ada yang salah orang memilih model mazhab manapun. Kebebasan individu namanya. Namun karena Kak Asma merasa bukan penganut Syiah, beliau merasa perlu mengklarifikasinya. Tapi entah mengapa Kak, kalau orang sudah dituduh Syiah maka apapun responnya dia sudah tak dapat lari dari label itu. Kalau yang dituduh mengatakan 'ya' artinya dia Syiah. Kalau mengatakan 'tidak' berarti dia Syiah yang taqiyyah. Nah bagaimana kalau dia tidak menjawab alias diam saja? Itu artinya dia adalah Syiah yang tak terbuka.

Jadi Kak Asma jangan cemas, sebelum Kak Asma sudah banyak orang yang juga berada pada posisi dan label yang sama. Nikmati saja, Kak.

Terhadap judul tulisan Kakak di Republika itu, dari lubuk hati yang paling dalam sekali saya mengakui Kakak memang seorang yang pemberani.

Salam salut tersembah dari saya.

No comments:

Post a Comment