Sunday, January 28, 2007

Back To Andalusia

Dalam sejarah, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam, mengutus beberapa ekspedisi ke dunia baru. Ada Jenderal Qasim ke India dan salah satunya Musa bin Nushair ke Maghribi. Ekspedisi itu dilakukan untuk menemukan dunia baru sekaligus untuk pengembangan wilayah Islam di luar Arabia.
Setelah sukses dengan ekspedisi di Maghribi, tibalah saatnya untuk menetap dunia baru. Nun di seberang maghribi, sebuah semenanjung memanggil-manggil. Musa bin Nushair mengutus seorang panglima brillian, Thariq bin Ziyad.
Tariq adalah jenderal yang fenomenal. Di dunia Islam, ia bahkan lebih dikenal ketimbang bosnya Musa bin Nushair. Begitu menyeberangi selat yang menghubungkan Magribi dengan negeri kaum Vandals, seluruh kapal prajurit ia bakar.
"Sekarang, di belakang kita hanyalah laut yang dalam. Kalau kita mundur, maka ombaknya akan segera menelan kita dan hanya nama kita yang akan sampai ke Baghdad. Jikalau kita kalah, maka di sini akan bergelimpangan tubuh-tubuh kita, membusuk. Maka tidak ada pilihan lain selain maju, bertempur dengan gagah berani. Allahu Akbar!" Dan peperangan pun dimenangkan.
Thariq mungkin tidak pernah tahu, bahwa selat yang ia lalui akan mengabadikan namanya. Itulah yang sekarang dikenal dengan selat Gibraltar yang berasal dari kata Jabal Thariq. Thariq pastilah tidak akan tahu, beberapa puluh tahun kemudian, Abdurrahman, cucu khalifah terakhir Bani Umayyah di Damaskus akan menjadikan negeri ini lebih dari apa yang pernah dibayangkannya.
Adalah Abdurrahman. Tak disadari oleh gerakan Hasyimiyyah bahwa pengeran yang satu itu lolos dari pembantaian pasca huru hara hancurnya dinasti umawiyah pada 750M /132H. Sambil mendukung adiknya yang masih balita, anak muda 22 tahun ini berlari menapak bulir-bulir air mata kematian keluarganya. Aromanya sangat busuk dan menyengat. Memang dulu kakek moyangnya telah membantai sang penghulu pemuda surga, Imam Husayn As, tapi itu bukanlah salahnya. Ia hanyalah turunan ke sekian yang tidak punya darah Zaid. Penting diingat, dinasti Muawwiyah hanya bertahan tiga Khalifah (Muawwiyah, Yazid, dan Muawwiyah ibn Yazid) setelah itu segera berkuasa Marwan bin Hakam. Karenanya Ibn Khaldun emoh menamai dinasti ini sebagai Bani Umayyah, namun sebagai dinasti Bani Marwan. Dan Abdurrahman adalah keturunan Marwan.
Panjang cerita bagaimana Abdurrahman selamat walau ia harus menerima kematian adik balitanya di Mesir. Ia terus berlari dan menemukan dunia Baru.. Andalusia. Kala itu Andalusia hanya daerah pinggiran kekhalifahan yang tidak pernah diurus serius oleh Damaskus. Andalusia adalah paria ditengah pergaurlan adikuasa kala itu. Abdurrahman memutihkan tanah Arab dan masa lalunya. Sekarang hanya ada masa depan dan kampung yang baru.. Andalusia dan Abdurrahman, The Eagle of Umayyad, telah memasukinya. Maka lengkaplah nama Abdurrahman Al-Dakhil (Sang Pemasuk)
Andalusia berkembang lebih dari apa yang diduga. Negeri ini diperintah dari Cordova. Abdurrahman dan turunannya tidak pernah benar-benar menyatakan merdeka dari Khilafah Abbasiyah di Baghdad sebagaimana Baghdad pun tak pernah benar-benar menganggap Andalusia. Tapi dengan begitulah Andalusia aman dan tidak terancam sembari terus memajukan diri. Abdurrahman hanya menggunakan gelar Amir untuk dirinya.
Andalusia sekarang telah jadi metropolitan baru, terang, mawah, eksklusif, dan berkeadaban. Cordova (Qurthubah) menjadi kiblat bagi Eropa. Islam benar-benar berumah di Andalusia. Cucu Al-Dakhil, yang menjadi Amir di 929 M, menyadari itu. Ia lah Abdurrahman III yang bergelar Al-Nashir. Menyadari betapa kuatnya Andalusia, Abdurrahman III menyatakan dirinya yang sesungguhnya. "Kamilah Khalifah Rasulillah, Amirul Mukminin (Komandan orang Beriman), Pelindung Agama Allah dan Pemimpin Tunggal Umat Islam di Dunia."
Pernyataan itu melengkapi pecah tiganya khilafah islam setelah sebelumnya di 909 M Ubaydillah Al-Mahdi, salah seorang keturunan Sayyidah Fathimah As, mendeklarasikan dinasti Fathimiyyah di Mesir sebagai kekhalifahan sendiri. Inilah satu-satunya khilafah Syiah yang bertahan hampir 300n tahun.
Kembali ke Andalusia, pasca Al-Nashir, semakin banyak orang berminat ke Andalusia. Posisi Khalifah yang kini disandangnya menerbitkan air liur pencari kuasa. Lalu intrik bermunculan, orang ketiga berdatangan dan didatangkan, konspirasi menjadi makanan dan Andalusia menjadi puing. Dinasti terakhir yang berpusat di Granada, Bani Ahmar, bertekuk lutut pada 1492, tangisan menggema seiring pembakaran orang beriman oleh penguasa baru. Sebagian mereka lari ke Maghribi, sebagian lagi beralih ke agama penguasa baru dan bagian terbesar menjadi mayat. Lalu Andalusia bersih dari Islam.
Salahkan jika kita Back to Andalusia? 700 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengatakan bahwa Andalusia adalah juga rumah kita. Seagaimana yahudi memproklamirkan Palestina sebagai tanah air kita walaupun mereka hanya beberpa ratus tahun berada di sana ribuan tahun yang lalu. Lalu mengapa kita tidak bisa berkata bahwa mari kita pulang ke tanah Andalusia. Salah satu tanah air kita.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home