Tuhan yang Maha Baik
Hari ini aku dapat pengalaman menarik. Entah kenapa aku ingin menjadi penikmat seni sehingga ada dorongan agar aku mendatangi pameran 1000 foto di museum Bank Mandiri di sekitar Stasiun Jakarta Kota. Sendiri lagi. Biasanya, kalau ingin jalan seperti itu aku mengajak seorang teman.
Pagi itu, sebenarnya aku sudah tidak punya uang lagi. Hampir-hampir aku lupa kalau ATM Muamalatku sudah kosong. Lalu aku ke ATM BNI. Jangan-jangan masih ada sisa. Ternyata, ATM BNI di kawasan Menteng itu lagi off line. Alamak!
Kupaksakan ngambil duit di ATM BCA. Walau kena cas, yang penting bisa liquid. Bukankah likuiditas juga penting? he.he.
Aku naik kereta setelah beli tiket. Kebetulan di sakuku juga ada beberapa tiket yang belum sempat digunakan. Sesampai di Stasium Kota, aku melenggang keluar seperti biasa sembari menyerahkan tiket ke petugas di sana. Aku lanjut keluar lancar….selancar air mengalir di pipa wavin:). Tiba-tiba.. ups. Sebuah tarikan kurasakan di pundak. Petugas marah-marah dan bilang tiket yang kuberikan tidak berlaku lagi. Ku cek lagi. Ternyata benar tanggalnya kadaluarsa. Dompet kubuka dan tiket yang tadi kubeli kucari.. Tapi gak ketemu. Ya..mungkin kececer. Aku katakan seadanya ke petugas kalau tiketku kececer mungkin. Ia tak percaya. Lalu saya kena denda, awalnya 50.000 lalu tawar-menawar jadi 40.000. Apes.. bargainingku lemah. Aku juga sadari kalau aku di posisi dia, mungkin juga tak akan bisa percaya begitu saja.
Mengapa aku seceroboh itu? aku menggerutu. Uangku semakin menipis. Tapi kupikir nanti aja menyesalnya karena tujuanku kan ke pameran, jadi nikmati dulu pamerannya. Pulangnya aku naik kereta lagi. Sebenarnya ingin menikmati kekesalanku yang tadi tertunda. Tapi kupikir rugi kalau aku kesal sekarang sehingga aku berkeputusan untuk menunda lagi kekesalanku di Mushala dekat Stasiun Pocin.
Di Mushala Pocin, aku masih menunda kesalku setelah shalat. Rencananya, kalau shalat telah selesai aku akan nikmati kekesalanku. Biasanya dengan menghitung-hitung kerugian pake kalkulator, mengandaikan itu tidak terjadi lalu menarik napas panjang dan…tidur.
Nah, aku mulai shalat. Allahu akbar! tiba-tiba ada yang menyentuh lembut pundakku sebagai tanda sign up jadi makmum. Aduh.. Aku kan lagi kesal.. Tapi tak apalah dan shalat mengalir bak Batang Antokan di Minangkabau sana.
Tuhan Maha Baik. Sesudah shalat, kesalku hilang. Ia kirimkan ilham kepadaku seolah berkata, “Yud, mungkin kamu kurang amal, kurang sedekah, kurang peduli, atau memang kamu pernah gak bayar tiket (hayo..ngaku aja), jadi apa salahnya sih yang 40.000 itu hilang?”
Oh.. iya, kesalku tiba-tiba hilang. Tuhan kan Maha Kaya juga. Lalu mengapa aku takut, kan ada Tuhan yang mendampingiku. Aku yakin 40.000 itu tak berarti apa-apa buat Tuhanku. Duh..Enaknya punya Tuhan yang Maha Kaya.. Lalu muncullah kata-kataku
TUHANKU BAIK SEKALI
Pagi itu, sebenarnya aku sudah tidak punya uang lagi. Hampir-hampir aku lupa kalau ATM Muamalatku sudah kosong. Lalu aku ke ATM BNI. Jangan-jangan masih ada sisa. Ternyata, ATM BNI di kawasan Menteng itu lagi off line. Alamak!
Kupaksakan ngambil duit di ATM BCA. Walau kena cas, yang penting bisa liquid. Bukankah likuiditas juga penting? he.he.
Aku naik kereta setelah beli tiket. Kebetulan di sakuku juga ada beberapa tiket yang belum sempat digunakan. Sesampai di Stasium Kota, aku melenggang keluar seperti biasa sembari menyerahkan tiket ke petugas di sana. Aku lanjut keluar lancar….selancar air mengalir di pipa wavin:). Tiba-tiba.. ups. Sebuah tarikan kurasakan di pundak. Petugas marah-marah dan bilang tiket yang kuberikan tidak berlaku lagi. Ku cek lagi. Ternyata benar tanggalnya kadaluarsa. Dompet kubuka dan tiket yang tadi kubeli kucari.. Tapi gak ketemu. Ya..mungkin kececer. Aku katakan seadanya ke petugas kalau tiketku kececer mungkin. Ia tak percaya. Lalu saya kena denda, awalnya 50.000 lalu tawar-menawar jadi 40.000. Apes.. bargainingku lemah. Aku juga sadari kalau aku di posisi dia, mungkin juga tak akan bisa percaya begitu saja.
Mengapa aku seceroboh itu? aku menggerutu. Uangku semakin menipis. Tapi kupikir nanti aja menyesalnya karena tujuanku kan ke pameran, jadi nikmati dulu pamerannya. Pulangnya aku naik kereta lagi. Sebenarnya ingin menikmati kekesalanku yang tadi tertunda. Tapi kupikir rugi kalau aku kesal sekarang sehingga aku berkeputusan untuk menunda lagi kekesalanku di Mushala dekat Stasiun Pocin.
Di Mushala Pocin, aku masih menunda kesalku setelah shalat. Rencananya, kalau shalat telah selesai aku akan nikmati kekesalanku. Biasanya dengan menghitung-hitung kerugian pake kalkulator, mengandaikan itu tidak terjadi lalu menarik napas panjang dan…tidur.
Nah, aku mulai shalat. Allahu akbar! tiba-tiba ada yang menyentuh lembut pundakku sebagai tanda sign up jadi makmum. Aduh.. Aku kan lagi kesal.. Tapi tak apalah dan shalat mengalir bak Batang Antokan di Minangkabau sana.
Tuhan Maha Baik. Sesudah shalat, kesalku hilang. Ia kirimkan ilham kepadaku seolah berkata, “Yud, mungkin kamu kurang amal, kurang sedekah, kurang peduli, atau memang kamu pernah gak bayar tiket (hayo..ngaku aja), jadi apa salahnya sih yang 40.000 itu hilang?”
Oh.. iya, kesalku tiba-tiba hilang. Tuhan kan Maha Kaya juga. Lalu mengapa aku takut, kan ada Tuhan yang mendampingiku. Aku yakin 40.000 itu tak berarti apa-apa buat Tuhanku. Duh..Enaknya punya Tuhan yang Maha Kaya.. Lalu muncullah kata-kataku
TUHANKU BAIK SEKALI

1 Comments:
Hehehehe....
makanya ngajak lightia dong...
Tapi..coba kalo saya yang mengalami kejadian tadi...kayaknya saya dagh nangis deh hikhikhik....
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home