Kunjungan Ke Bandung
Terlalu lama aku terus berjanji kepada adik-adikku di bandung untuk berkunjung ke Kost-an mereka. Kebetulan tiga dari empat adikku sedang berada di Bandung. Yang pertama
WAFDI FITRI (known as Fery in our family or Pei for his friends) baru saja usai mengikuti training welding inspection setelah menyelesaikan S1 Teknik Metalurgi UI tahuan lalu. Yang kedua,
ELFADHILA RAHMA (known as Ira) mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran dan
RIFQI ELFAJRI (known as Iki in our Family dan Rifki for his friends) mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Aku punya satu adik lagi yakni
FIKRIYA RAHMA (known as Ria or Pinky or Iya) namun tidak di Bandung karena masih siswa MTsN Payakumbuh Sumatera Barat.
Kunjungan itu membuatku sangat bahagia. sudah lama kami tak pernah ngumpul dan jalan bareng. Adik-adik itu lucu, menyenangkan dan menginspirasi bagiku.
Fery misalnya, orangnya keras, kukuh dan mandiri. Feri seorang pekerja keras dengan percaya diri yang tinggi. Ia sanggup berhadapan dengan apapun kesulitan teknikal. kemarin ia curhat tentang gagalnya ia menjadi the best dalam pelatihan itu. Ia sangat yakin kalau ia dicurangi sebab yang jdi the best adalah orang yang tidak lyak dan selama ini juh di bawahnya. Ia membuktikan dalam ujian akhir menjadi satu-satunya peserta yang lulus murni. Urusan akademik, aku nyerah sama Fery
Ira lain lagi. Anak perempuan pertama di bagi Ayah dan Ibu, pelanjut trah suku Malayu Dt. Marajo di Kampung Tangah Lubuh Basung Agam. Anaknya juga keras hati, tegas dan tak mau kompromi untuk yang dia anggap benar. Namun sangat penyayang. ira adalah menteri di BEM Fakultasnya dan katanya sih ditakuti..he..he
Iki berbeda prosesnya dari yang lain. Iki pernah memutuskan tidak kuliah selama setahun hanya karena tidak mendapatkan jurusan pilihan pertama. Padahan ia lulus di PTN di Padang. Iki tidak menunjukkan kecerdasan mengorganisir orang sebelumnya. Ia cenderung jadi anak manis di belakang aktifitas teman-temannya. Namun sesampai di Unpad, aslinya mulai kelihatan. langsung ia memimpin banyak orang dan mengorganize berbagai aktifitas. Sekarang telah menjadi menteri di kampusnya
Kunjungan ini memberiku pemahaman baru tentang hubungan keluarga yang ternyata punya kekuatan sangat besar. Padahal dulu waktu kecil kita sering berantam. Biasalah.. Namun sekarang aku semakin menyadari betapa berharganya mereka...
Ada Apa Kalla?
Unik. Jum’at malam tanggal 16 Maret 2007 lalu, di rumah Wapres Jusuf Kalla berkumpul tokoh-tokoh masyarakat Minangkabau dari berbagai kalangan. Ada Gubernur, pengusaha, menteri, birokrat, anggota DPR serta Walikota dan Bupati se Sumatera Barat. Agendanya cuma satu: mencari dana untuk membangun kembali Istana Basa Pagaruyung di Batusangkar yang musnah dilalap si jago merah 27 Februari lalu. Dalam acara itu, dana 20 Milyar Rupiah yang dibutuhkan sukses terkumpul. Ada 500 juta dari Fahmi Idris, ada 1,5 Milyar dari Bachtiar Chamsyah, dan 1 Milyar dari Solihin putra Kalla. Kalla sendiri menyumbang 1 Milyar.
Unik. Karena Jusuf Kalla bertindak sebagi pengundang dan tuan rumah. Padahal sebagaimana kita ketahui, pertemuan itu adalah pertemuan tokoh Minangkabau untuk menggalang dana bagi pembangunan kembali Istana yang adalah milik orang Minangkabau dan berada di Ranah Minang. Sementara Kalla bukanlah orang Minang. Kalla adalah orang Bugis tak bercampur dari Watampone Sulawesi Selatan yang tidak akan punya tanggungjawab terhadap Istana Minang.
Memang, sebagai wapres yang notabene hari ini memerintah Indonesia, Kalla tentu bertanggungjawab. Namun tentu bukan pribadi Kalla. Karena sebagai pemerintah bukankah hal ini lebih pantas digarap oleh Kementerian Pariwisata yang dipimpin Jero Wacik? Namun jikalau harus berupa penggalangan dana, bukankah yang lebih berhak adalah pengurus Gebu Minang? Mengapa harus Kalla? Ada juga yang mengangap begini, Istri Kalla, Ibu Mufidah Kalla kan orang Minang, jadi sebagai urang sumando, Kalla harus turut bertanggungjawab apalagi putra-putri Kalla adalah orang Minang berdasarkan prinsip matrilineal di Minangkabau. Jika itu alasannya, mengapa harus begitu? Ibu Mufidah Kalla sendiri sudah tidak tinggal di Ranah Minang lagi bahkan sudah menjadi orang Makassar semenjak ayahnya –Buya Miad- hijrah ke Sulawesi Selatan.
LALU MENGAPA KALLA?
Urusan fasilitas-memfasilitasi seperti di atas tampaknya memang hobi Kalla. Masih ingat Malino I dan Malino II di Poso? Itu adalah kerjaan Kalla. Perannya sebagai Menkokesra waktu itu sangat menonjol sehingga ada perdamaian –walaupun kemudian rusuh lagi- di Poso. Atau mungkin yang masih dekat adalah MoU Helsinki yang digagas melalu usaha damai Kalla? Berlarutnya kasus Aceh karena dihadapi secara militer pada zaman DOM di zaman Soeharto, dan Darurat Militer di zaman Megawati jadi cair setelah upaya awal diplomasi yang dipimpin Kalla melalui Hamid Awaluddin. Kalau mau agak dekat lagi, anda ingat perseteruan antara KH. Zainuddin MZ dengan Zaenal Maarif pasca Muktamar I PBR? Perseteruan itu berakhir setelah difasilitasi oleh Aksa Mahmud yang adalah adik ipar Kalla. Tentu saja proses ini terwujud atas inisiatif Kalla. Bayangkan, Ketua Partai Golkar mendamaikan PBR. Benar-benar gila..he..he.
Sepertinya Kalla punya tujuan untuk itu. Apakah ada hubungan dengan upaya meraih dukungan di 2009? Kalla mengkooptasi dengan berbagai cara yang mungkin dilakukan. Perhatikan di Aceh pasca Tsunami. Kalla bertindak bak seorang presiden lalu beberapa waktu lalu di hadapan peserta Rakernas Partai Demokrat, Kalla cuci tangan atas lambannya SBY. Ada apa ini? Mungkinkah Kalla sedang menebar jasa dan menggalang dukungan? Atau kah memang ada kemurnian niat di sana? Akhirnya sejarah yang akan berbicara
Gempa di Tanahku


Rumah Gadang, Ustano Pagaruyung yang gagah, kini tinggal kenangan
Setelah sekian lama ninggalin blog, aku pikir ini saat yang paling tidak produktif. Aku hanya ingin laporan singkat.
Bulan ini, kampungku Ranah Minang, Ranah Tercinta, Ranah Bundo Kanduang koyak seketika karena gempa 6,2 SR.
Aku dikejutkan oleh sms dari seorang sahabat yang memberi tahu. Langsung kukontak ibu di Payakumbuh, dan Alhamdulillah selamat walau perabotan di rumah berhancuran. Tapi tak apalah. Yang penting selamat.
Beberapa waktu sebelumnya, Ustano Basa (Istana Besar) Pagaruyung, pusat bekas Kesultanan Alam Minangkabau hangus dilahap si jago merah. Hebatnya, Itu semua terjadi kala hujan.
Istana itu sungguh megah. Tingginya sekitar 60 meter. Ini komentar seorang blogger sepulang dari Pagaruyung
Ini istana yang paling cantik
yang pernah aq kunjungi. Istana ini terdiri dari 3 tingkat. tingkat pertama
berisi singgasana raja, ruang tidur raja dan permaisuri serta anak2 mereka.
bagus banget ruang tidurnya. lorong masuk kamarnya saja ada 7 lapis gorden
warni-warni. dibagian ini pula ada penyewaan baju adat minangkabau. lantai kedua
terdapat ruang tidur putri raja yang akan dipingit apabila akan menikah. ruangan
itu bagus banget, penuh dengan hiasan dan gorden warna-warni. lantai ketiga
merupakan tempat istirahat raja dan sekeluarga. ruangan itu kosong melompong,
gak ada barang satupun. jadi raja dan keluarga biasanya lesehan dan mengobrol2
saja disana. tapi sayang, istana itu kembali terbakar. akan memakan waktu yang
lama untuk mengembalikan istana cantik ini....
Tapi sekarang tinggallah Pagaruyung menjadi puing untuk ketiga kalinya setelah dibakar Belanda pada 1825 dan Sultan terakhir Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Bagagar Syah dibuang ke Batavia dan dimakamkan di Mangga Dua, kemudian kebakaran kedua pada awal kemerdekaan dan sekarang.
Sepotong Lagu memanggil untuk kampung yang dihancurkan gempa dan Ustano yang disambar petir
Minangkabau Tanah nan den cinto
Pusako Bundo nan dahulunyo
Rumah Gadang nan Sambilan Ruang
Rangkiang Baririk di Halamannyo
Bilo den kana hati den taibo
Tabayang-bayang di ruang mato
Minangkabau Tanah kucinta
Pusaka Ibunda semenjak dahulu
Rumah Gadang yang sembilan ruangnya
Lumbung berbaris di halamannya
Bila ku ingat Hati rasa iba
Terbayang-bayang di ruang mata